Klinik Apollo – Sifilis merupakan salah 1 infeksi menular seksual (IMS) yang di sebabkan oleh bakteri Treponema pallidum.
Penyakit ini dapat menyerang pria maupun wanita dan berkembang secara bertahap. Selain itu, infeksi ini sering kali tidak menimbulkan gejala yang jelas pada tahap awal.
Apabila tidak segera ditangani, penyakit ini dapat menimbulkan komplikasi serius yang memengaruhi berbagai organ tubuh. Akibatnya, kualitas hidup penderitanya dapat menurun.
Oleh karena itu, penting untuk memahami gejala, penyebab, bahaya, pengobatan, serta cara pencegahannya agar kesehatan tetap terjaga.
Apa Itu Sifilis?
Ini adalah infeksi bakteri yang umumnya menular melalui kontak seksual dengan seseorang yang terinfeksi.
Secara umum, penyakit ini berkembang dalam beberapa tahap, yaitu primer, sekunder, laten, dan tersier.
Selain itu, setiap tahap memiliki gejala yang berbeda dan tingkat keparahan yang dapat meningkat apabila tidak mendapatkan penanganan medis.
Gejala Sifilis
Berikut gejalanya:
1. Sifilis Primer
Pada tahap pertama, penyakit ini biasanya ditandai dengan munculnya luka kecil yang disebut chancre.
Luka ini umumnya:
- Tidak terasa nyeri.
- Berbentuk bulat atau oval.
- Muncul pada area kelamin, anus, atau mulut.
- Dapat sembuh sendiri dalam beberapa minggu.
Namun demikian, karena tidak menimbulkan rasa sakit, banyak penderita yang tidak menyadari keberadaan luka tersebut.
2. Sifilis Sekunder
Selanjutnya, jika tidak diobati, infeksi dapat berkembang ke tahap kedua dengan gejala seperti:
- Ruam pada telapak tangan atau telapak kaki.
- Demam.
- Pembengkakan kelenjar getah bening.
- Sakit tenggorokan.
- Nyeri otot.
- Kelelahan.
- Rambut rontok pada beberapa area.
3. Sifilis Laten
Sementara itu, pada tahap ini gejala dapat menghilang meskipun bakteri masih berada di dalam tubuh.
Bahkan, fase laten dapat berlangsung selama bertahun-tahun tanpa tanda yang jelas.
4. Sifilis Tersier
Apabila infeksi terus berkembang, tahap lanjut dapat menyebabkan kerusakan serius pada:
- Otak.
- Jantung.
- Pembuluh darah.
- Mata.
- Sistem saraf.
- Organ tubuh lainnya.
Akibatnya, komplikasi pada tahap ini dapat bersifat permanen dan mengancam kesehatan secara keseluruhan.
Penyebab Sifilis
Penyakit ini di sebabkan oleh bakteri Treponema pallidum.
Secara umum, penularannya dapat terjadi melalui:
- Hubungan seksual vaginal, anal, atau oral tanpa perlindungan.
- Kontak langsung dengan luka sifilis.
- Penularan dari ibu hamil kepada janin selama kehamilan.
Di sisi lain, perlu diketahui bahwa penyakit ini tidak menular melalui penggunaan toilet bersama, berbagi alat makan, atau berjabat tangan.
Cara Diagnosis Sifilis
Diagnosis sifilis tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan gejala karena tanda-tandanya sering menyerupai kondisi kesehatan lainnya. Oleh sebab itu, dokter perlu melakukan beberapa pemeriksaan tambahan.
1. Wawancara dan Riwayat Kesehatan
Pertama, dokter akan menanyakan:
- Keluhan yang dialami
- Riwayat aktivitas seksual
- Riwayat IMS sebelumnya
- Riwayat pasangan seksual yang terdiagnosis sifilis
2. Pemeriksaan Fisik
Selanjutnya, Dokter dapat melakukan pemeriksaan untuk mencari:
- Luka sifilis (chancre)
- Ruam kulit khas sifilis sekunder
- Pembesaran kelenjar getah bening
- Tanda komplikasi pada organ tubuh tertentu
3. Tes Laboratorium
Selain itu, tes laboratorium diperlukan untuk membantu memastikan diagnosis. Untuk memastikan diagnosis, dokter biasanya menyarankan:
- Tes darah untuk mendeteksi antibodi terhadap bakteri penyebab sifilis
- Pemeriksaan cairan dari luka sifilis apabila terdapat chancre
- Pemeriksaan tambahan jika dicurigai terjadi komplikasi pada sistem saraf atau organ lainnya
Dengan demikian, deteksi dini sangat penting karena sifilis yang ditemukan lebih awal umumnya lebih mudah ditangani dan memiliki risiko komplikasi yang lebih rendah.
Faktor Risiko Sifilis
Meskipun sifilis dapat menyerang siapa saja, beberapa faktor berikut dapat meningkatkan risiko infeksi:
1. Hubungan Seksual Tanpa Pengaman
Hubungan seksual tanpa perlindungan meningkatkan risiko penularan sifilis dan IMS lainnya.
2. Memiliki Lebih dari Satu Pasangan Seksual
Semakin banyak pasangan seksual, semakin tinggi risiko terpapar infeksi menular seksual.
3. Memiliki Pasangan yang Terinfeksi Sifilis
Kontak seksual dengan pasangan yang terinfeksi merupakan salah satu faktor risiko utama.
4. Riwayat Infeksi Menular Seksual (IMS)
Seseorang yang pernah mengalami IMS memiliki risiko lebih tinggi terkena infeksi berikutnya.
5. Pria yang Berhubungan Seksual dengan Pria (MSM)
Kelompok ini diketahui memiliki angka kejadian sifilis yang lebih tinggi dibandingkan populasi umum sehingga skrining rutin sangat dianjurkan.
6. Tidak Melakukan Pemeriksaan Kesehatan Seksual Secara Berkala
Banyak kasus sifilis tidak menunjukkan gejala pada tahap awal sehingga pemeriksaan rutin menjadi penting bagi individu yang memiliki faktor risiko.
7. Tidak Menjalani Skrining Saat Kehamilan
Wanita hamil yang tidak menjalani pemeriksaan sifilis berisiko menularkan infeksi kepada janin.
Bahaya Jika Sifilis Tidak Diobati
Jika tidak mendapatkan penanganan yang tepat, penyakit ini dapat meningkatkan risiko berbagai komplikasi serius., antara lain:
1. Gangguan Sistem Saraf
Infeksi dapat menyerang otak dan saraf sehingga menyebabkan gangguan neurologis.
2. Kerusakan Jantung dan Pembuluh Darah
Penyakit ini dapat memengaruhi sistem kardiovaskular dan meningkatkan risiko masalah kesehatan yang berat.
3. Gangguan Penglihatan
Pada beberapa kasus, penyakit ini dapat menyebabkan gangguan mata hingga kehilangan penglihatan.
4. Gangguan Kehamilan
Wanita hamil yang menderita penyakit ini berisiko menularkan infeksi kepada bayinya, yang dapat menyebabkan komplikasi serius pada janin.
5. Meningkatkan Risiko Infeksi Lain
Luka akibat penyakit ini dapat mempermudah masuknya infeksi menular seksual (IMS) lainnya.
Pengobatan Sifilis
Oleh karena itu, penyakit ini perlu ditangani melalui pemeriksaan dan pengobatan yang sesuai dengan kondisi pasien.
Sebelum menentukan terapi, dokter biasanya akan melakukan evaluasi gejala, pemeriksaan fisik, dan tes laboratorium untuk memastikan diagnosis.
Selain menjalani terapi yang dianjurkan, pasien juga disarankan untuk:
- Mengikuti seluruh anjuran dokter ahli.
- Menjalani kontrol sesuai jadwal.
- Menghindari hubungan seksual sampai di nyatakan aman.
- Menginformasikan pasangan seksual agar turut menjalani pemeriksaan.
Deteksi dan penanganan dini sangat penting untuk membantu mencegah perkembangan penyakit ke tahap yang lebih serius.
Cara Mencegah Sifilis
Untuk mengurangi risiko penularan, beberapa langkah berikut dapat dilakukan:
- Melakukan hubungan seksual yang lebih aman.
- Menghindari berganti-ganti pasangan seksual.
- Menjalani pemeriksaan kesehatan secara berkala jika memiliki faktor risiko.
- Segera memeriksakan diri apabila muncul gejala yang mencurigakan.
- Melakukan skrining selama kehamilan sesuai anjuran tenaga medis.
Sifilis adalah infeksi menular seksual (IMS) yang dapat berkembang secara bertahap dan menimbulkan komplikasi serius jika tidak segera di tangani.
Dengan demikian, mengenali gejala sejak dini, memahami penyebabnya, serta melakukan pemeriksaan dan pengobatan yang tepat merupakan langkah penting untuk menjaga kesehatan.
Oleh sebab itu, jika Anda mengalami gejala yang mengarah pada sifilis atau memiliki risiko terpapar infeksi, segera lakukan konsultasi dan pemeriksaan medis untuk mendapatkan diagnosis yang akurat serta penanganan yang sesuai.
Kapan Harus Berkonsultasi ke Dokter?
Selain memahami gejalanya, Anda juga perlu mengetahui kapan harus segera berkonsultasi ke dokter.
Segera lakukan konsultasi medis apabila Anda mengalami:
- Luka pada area kelamin, anus, atau mulut yang tidak diketahui penyebabnya
- Ruam pada telapak tangan atau kaki
- Pembengkakan kelenjar getah bening tanpa sebab yang jelas
- Riwayat kontak seksual dengan pasangan yang didiagnosis sifilis
- Kehamilan dengan faktor risiko IMS
Dengan demikian, pemeriksaan lebih awal membantu memperoleh diagnosis yang akurat serta mencegah komplikasi jangka panjang.
Baca juga: Kenali Gejala & Obat Sifilis Ampuh yang Tepat Sesuai Stadium
Solusi Pemeriksaan dan Penanganan Sifilis di Klinik Apollo
Jika Anda mengalami gejala yang mengarah pada sifilis, seperti luka pada area kelamin, ruam kulit, atau keluhan lain yang mencurigakan, segera lakukan pemeriksaan di Klinik Apollo.
Selanjutnya, tim medis akan melakukan evaluasi menyeluruh melalui konsultasi, pemeriksaan fisik, dan tes penunjang yang diperlukan untuk membantu menentukan diagnosis serta rencana penanganan yang sesuai dengan kondisi pasien.
Selain itu, Klinik Apollo juga mengutamakan privasi, kenyamanan, dan kerahasiaan pasien selama proses konsultasi hingga perawatan.
Karena itu, pemeriksaan dan penanganan sedini mungkin sangat penting untuk membantu mencegah perkembangan infeksi dan mengurangi risiko komplikasi yang lebih serius.
Untuk mendapatkan informasi lebih lanjut, segera hubungi kami melalui WhatsApp di nomor 0812-1230-6882 atau kunjungi kontak kami.
FAQ Seputar Sifilis
1. Apa gejala awal sifilis yang paling sering muncul?
Gejala awal sifilis biasanya berupa luka kecil yang disebut chancre pada area kelamin, anus, atau mulut. Luka ini umumnya tidak menimbulkan rasa nyeri sehingga sering tidak disadari.
2. Apakah sifilis bisa sembuh?
Sifilis dapat ditangani dengan terapi medis yang tepat sesuai rekomendasi dokter. Diagnosis dan pengobatan sejak dini sangat penting untuk mencegah komplikasi.
3. Berapa lama gejala sifilis muncul setelah terinfeksi?
Gejala sifilis primer umumnya muncul sekitar 10–90 hari setelah terpapar bakteri, dengan rata-rata sekitar 3 minggu.
4. Apakah sifilis dapat menular melalui ciuman?
Penularan dapat terjadi apabila terdapat luka sifilis aktif di area mulut. Namun, sebagian besar kasus terjadi melalui kontak seksual langsung.
5. Apakah sifilis menular melalui toilet umum?
Tidak. Sifilis tidak menular melalui toilet, kolam renang, alat makan, pakaian, atau berjabat tangan.
6. Apa yang terjadi jika sifilis tidak diobati?
Sifilis dapat berkembang ke stadium lanjut dan menyebabkan kerusakan pada otak, sistem saraf, jantung, pembuluh darah, mata, serta organ tubuh lainnya.
7. Bagaimana cara memastikan seseorang terkena sifilis?
Diagnosis hanya dapat dipastikan melalui pemeriksaan medis dan tes laboratorium yang dilakukan oleh tenaga kesehatan profesional.
8. Apakah sifilis selalu menimbulkan gejala?
Tidak. Pada fase laten, penderita dapat tidak mengalami gejala apa pun meskipun infeksi masih ada di dalam tubuh.
9. Apakah ibu hamil perlu melakukan tes sifilis?
Ya. Skrining sifilis selama kehamilan sangat penting untuk membantu mencegah penularan kepada janin.
10. Bagaimana cara mencegah sifilis?
Pencegahan dapat dilakukan dengan menerapkan hubungan seksual yang lebih aman, melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala, menghindari berganti-ganti pasangan seksual, serta segera berkonsultasi jika muncul gejala yang mencurigakan.
JAM OPERASIONAL
| Senin – Minggu | 09.00 – 19.00 |


