Klinik Apollo – Penularan sifilis paling sering terjadi melalui hubungan seksual tanpa pengaman (kondom atau pelindung) dan kontak langsung dengan luka yang terinfeksi bakteri Treponema pallidum.
Selain itu, sifilis juga dapat menular dari ibu hamil kepada janin apabila tidak mendapatkan pengobatan yang tepat. Memahami cara penularan sifilis sejak dini sangat penting agar Anda dapat melindungi diri sendiri, pasangan seksual, dan mencegah terjadinya komplikasi serius. seksual.
Banyak orang mengira penyakit ini hanya menular melalui hubungan seksual. Padahal, penularan sifilis juga dapat terjadi dari ibu hamil kepada janinnya apabila tidak mendapatkan pengobatan. Dalam praktik klinis, tidak sedikit pasien datang setelah mengetahui pasangan seksualnya didiagnosis sifilis.
Sebagian besar bahkan tidak menyadari bahwa mereka telah terpapar karena gejala awal sering kali tidak menimbulkan rasa sakit dan mudah diabaikan.
- Apa Itu Sifilis?
- Bagaimana Penularan Sifilis Terjadi?
- Apakah Sifilis Bisa Menular Lewat Ciuman?
- Apakah Sifilis Menular Lewat Toilet, Handuk, atau Alat Makan?
- Siapa yang Memiliki Risiko Lebih Tinggi?
- Gejala Awal yang Perlu Diwaspadai
- Bagaimana Cara Mencegah Penularan Sifilis?
- Pentingnya Diagnosis dan Pengobatan Dini
- Kesimpulan
- FAQ Seputar Penularan Sifilis
Apa Itu Sifilis?
Sifilis adalah infeksi bakteri yang berkembang secara bertahap melalui beberapa stadium, yaitu primer, sekunder, laten, dan tersier.
Jika tidak segera di obati, infeksi ini dapat menyerang organ vital, seperti otak, jantung, mata, dan sistem saraf.
Karena perkembangan penyakit berlangsung perlahan, diagnosis sejak dini memiliki peran penting untuk mencegah komplikasi jangka panjang.
Bagaimana Penularan Sifilis Terjadi?
Penularan sifilis terjadi ketika seseorang melakukan kontak langsung dengan luka sifilis (chancre) yang mengandung bakteri Treponema pallidum.
Luka tersebut sering muncul pada area kelamin, anus, rektum, bibir, maupun rongga mulut.
Berikut beberapa cara penularan sifilis yang paling umum.
1. Hubungan Seksual Tanpa Pengaman (Kondom atau Pelindung)
Ini merupakan penyebab penularan sifilis yang paling sering terjadi.
Bakteri dapat berpindah melalui:
- Hubungan seksual vaginal.
- Hubungan seksual anal.
- Hubungan seksual oral.
Risiko penularan meningkat apabila tidak menggunakan kondom (pengaman atau pelindung) atau berganti-ganti pasangan seksual.
2. Kontak Langsung dengan Luka Sifilis
Meskipun luka sifilis sering kali kecil dan tidak terasa nyeri, bakteri tetap dapat berpindah saat kulit atau selaput lendir bersentuhan langsung dengan luka tersebut.
Karena itulah seseorang dapat tertular tanpa menyadari bahwa pasangan seksualnya sedang mengalami sifilis.
3. Penularan dari Ibu ke Bayi (Sifilis Kongenital)
Ibu hamil yang menderita sifilis berisiko menularkan infeksi kepada janin melalui plasenta selama kehamilan.
Sifilis kongenital dapat menyebabkan:
- Keguguran.
- Bayi lahir mati.
- Persalinan prematur.
- Berat badan lahir rendah.
- Kelainan tulang.
- Gangguan penglihatan dan pendengaran.
Oleh sebab itu, pemeriksaan sifilis selama kehamilan sangat di anjurkan agar pengobatan dapat di berikan sedini mungkin.
4. Berbagi Jarum Suntik yang Tidak Steril
Walaupun lebih jarang di bandingkan hubungan seksual, penggunaan jarum suntik yang terkontaminasi tetap berpotensi menularkan berbagai infeksi, termasuk sifilis jika terdapat paparan darah yang mengandung bakteri.
Apakah Sifilis Bisa Menular Lewat Ciuman?
Jawabannya adalah bisa, tetapi tidak selalu.
Penularan melalui ciuman dapat terjadi apabila terdapat luka sifilis aktif di bibir atau dalam mulut.
Jika tidak ada luka tersebut, risiko penularannya sangat rendah.
Apakah Sifilis Menular Lewat Toilet, Handuk, atau Alat Makan?
Tidak.
Bakteri penyebab sifilis tidak mampu bertahan lama di luar tubuh manusia.
Oleh karena itu, penyakit ini tidak menular melalui:
- Dudukan toilet.
- Kolam renang.
- Handuk.
- Alat makan.
- Gelas.
- Pakaian.
- Berjabat tangan.
- Berpelukan.
Informasi ini penting untuk menghindari kesalahpahaman yang masih sering beredar di masyarakat.
Siapa yang Memiliki Risiko Lebih Tinggi?
Beberapa kelompok memiliki risiko lebih tinggi mengalami penularan sifilis, antara lain:
- Memiliki lebih dari 1 pasangan seksual.
- Berhubungan seksual tanpa kondom (pengaman atau pelindung).
- Memiliki pasangan seksual yang terdiagnosis sifilis.
- Memiliki riwayat infeksi menular seksual (IMS) lainnya.
- Pria yang berhubungan seksual dengan pria (MSM).
- Orang dengan HIV.
Semakin tinggi faktor risiko yang di miliki, semakin penting melakukan skrining secara berkala.
Gejala Awal yang Perlu Diwaspadai
Gejala sifilis sering kali berbeda pada setiap orang.
Namun, beberapa tanda awal yang paling sering di temukan meliputi:
- Luka kecil yang tidak terasa sakit pada area kelamin, anus, atau mulut.
- Pembengkakan kelenjar getah bening.
- Ruam pada telapak tangan dan telapak kaki.
- Demam ringan.
- Nyeri otot.
- Kelelahan.
Meskipun gejala dapat menghilang dengan sendirinya, bakteri tetap berada di dalam tubuh apabila tidak di obati.
Bagaimana Cara Mencegah Penularan Sifilis?
Pencegahan merupakan langkah terbaik untuk mengurangi risiko infeksi. Anda dapat melakukannya dengan:
- Menggunakan kondom (pengaman atau pelindung) secara konsisten saat berhubungan seksual.
- Tidak berganti-ganti pasangan seksual.
- Melakukan pemeriksaan IMS (infeksi menular seksual) secara rutin apabila aktif secara seksual.
- Menghindari hubungan seksual ketika terdapat luka pada area kelamin atau mulut.
- Mengajak pasangan seksual menjalani pemeriksaan jika salah satu terdiagnosis sifilis.
- Menjalani pengobatan hingga tuntas sesuai anjuran dokter ahli.
Pentingnya Diagnosis dan Pengobatan Dini
Sifilis dapat di diagnosis melalui pemeriksaan darah serta evaluasi medis oleh dokter ahli.
Kabar baiknya, penyakit ini dapat di sembuhkan, terutama jika di tangani pada stadium awal menggunakan antibiotik yang sesuai.
Berdasarkan pedoman dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dan World Health Organization (WHO), pemberian antibiotik sejak dini mampu menghentikan perkembangan penyakit sekaligus mencegah penularan kepada orang lain.
Jangan menunda pemeriksaan apabila Anda memiliki faktor risiko, menemukan luka yang mencurigakan, atau pasangan di nyatakan positif sifilis.
Kesimpulan
Penularan sifilis paling sering terjadi melalui hubungan seksual tanpa pengaman (kondom atau pelindung) dan kontak langsung dengan luka sifilis. Selain itu, infeksi juga dapat di tularkan dari ibu hamil kepada janin apabila tidak segera mendapatkan pengobatan.
Sebaliknya, sifilis tidak menular melalui berbagi alat makan, dudukan toilet, maupun berjabat tangan. Semakin cepat sifilis terdeteksi, semakin besar peluang penyembuhan dan semakin kecil risiko komplikasi maupun penularan kepada pasangan seksual.
Jika Anda mengalami gejala yang mengarah pada sifilis, memiliki pasangan seksual yang terdiagnosis, atau ingin memastikan kondisi kesehatan seksual Anda, segera konsultasikan dengan tim medis berpengalaman di Klinik Apollo Jakarta.
Dokter ahli akan memberikan pemeriksaan yang akurat, menjaga kerahasiaan Anda, serta menyusun pengobatan yang tepat sesuai kondisi. Dengan diagnosis dan terapi sedini mungkin, Anda dapat mencegah komplikasi, melindungi pasangan seksual, dan kembali menjalani aktivitas dengan lebih tenang.
FAQ Seputar Penularan Sifilis
Berapa lama sifilis dapat menular?
Seseorang yang terinfeksi sifilis dapat menularkan penyakit ini selama masih terdapat bakteri Treponema pallidum di dalam tubuh, terutama pada stadium primer dan sekunder ketika luka atau ruam masih aktif.
Tanpa pengobatan yang tepat, sifilis tetap dapat berkembang ke stadium laten dan berpotensi menyebabkan komplikasi serius.
Oleh karena itu, segera lakukan pemeriksaan jika Anda memiliki gejala atau pernah melakukan kontak berisiko.
Apakah sifilis selalu menular saat berhubungan seksual?
Tidak selalu, tetapi risiko penularannya sangat tinggi apabila terdapat kontak langsung dengan luka sifilis pada area kelamin, anus, atau mulut.
Penggunaan kondom (pengaman atau pelindung) dapat membantu menurunkan risiko, meskipun tidak memberikan perlindungan 100% jika luka berada di area yang tidak tertutup kondom (pengaman atau pelindung).
Apakah sifilis bisa menular lewat ciuman?
Ya, sifilis dapat menular melalui ciuman apabila terdapat luka sifilis aktif di bibir, lidah, gusi, atau bagian dalam mulut.
Namun, jika tidak ada luka yang mengandung bakteri, risiko penularan melalui ciuman sangat rendah.
Apakah sifilis menular melalui air liur?
Air liur bukan merupakan media utama penularan sifilis.
Penularan lebih mungkin terjadi apabila air liur bersentuhan langsung dengan luka sifilis yang berada di dalam mulut.
Tanpa adanya luka aktif, risiko penularan melalui air liur sangat kecil.
Apakah sifilis dapat menular melalui toilet umum?
Tidak.
Bakteri penyebab sifilis tidak dapat bertahan lama di luar tubuh manusia.
Karena itu, Anda tidak akan tertular sifilis melalui dudukan toilet, kolam renang, pakaian, handuk, alat makan, atau berjabat tangan.
Apakah pasangan seksual harus diperiksa jika salah satu terkena sifilis?
Ya.
Jika salah satu pasangan seksual di diagnosis sifilis, pasangan seksual juga sebaiknya menjalani pemeriksaan meskipun belum mengalami gejala.
Langkah ini penting untuk mencegah penularan berulang (kambuh) dan memastikan keduanya memperoleh pengobatan yang sesuai apabila di perlukan.
Bisakah sifilis sembuh total?
Ya.
Sifilis dapat di sembuhkan dengan antibiotik yang di rekomendasikan dokter ahli, terutama jika pengobatan di mulai pada stadium awal.
Namun, kerusakan organ yang sudah terjadi akibat infeksi stadium lanjut mungkin tidak dapat di pulihkan sepenuhnya.
Oleh sebab itu, diagnosis dan terapi sedini mungkin sangat di anjurkan.
Kapan sebaiknya melakukan tes sifilis?
Anda di sarankan menjalani tes sifilis apabila mengalami gejala yang mengarah pada sifilis, memiliki pasangan seksual yang terdiagnosis sifilis, melakukan hubungan seksual tanpa pengaman (kondom atau pelindung), berganti pasangan seksual, atau sedang merencanakan kehamilan maupun menjalani pemeriksaan antenatal.
Deteksi dini memungkinkan pengobatan di lakukan lebih cepat sehingga risiko komplikasi dan penularan dapat di minimalkan.
Ditinjau secara medis oleh Tim Medis Klinik Apollo Jakarta
- Apa Itu Sifilis?
- Bagaimana Penularan Sifilis Terjadi?
- Apakah Sifilis Bisa Menular Lewat Ciuman?
- Apakah Sifilis Menular Lewat Toilet, Handuk, atau Alat Makan?
- Siapa yang Memiliki Risiko Lebih Tinggi?
- Gejala Awal yang Perlu Diwaspadai
- Bagaimana Cara Mencegah Penularan Sifilis?
- Pentingnya Diagnosis dan Pengobatan Dini
- Kesimpulan
- FAQ Seputar Penularan Sifilis
JAM OPERASIONAL
| Senin – Minggu | 09.00 – 19.00 |


