Klinik Apollo – Keputihan pada wanita dapat terjadi karena perubahan hormon, ovulasi, kehamilan, iritasi, atau infeksi seperti bacterial vaginosis, kandidiasis, dan trikomoniasis. Keputihan yang normal umumnya berwarna bening atau putih, tidak berbau menyengat, dan tidak disertai gatal maupun nyeri. Sebaliknya, perubahan warna, bau, jumlah, atau tekstur yang disertai keluhan lain perlu mendapat perhatian medis.

Keputihan atau vaginal discharge merupakan kondisi yang cukup umum. Cairan tersebut sebenarnya memiliki fungsi penting untuk membantu menjaga kelembapan dan kebersihan area vagina. Namun, tidak semua keputihan menandakan penyakit. Karena itu, penting untuk mengetahui penyebab keputihan pada wanita berdasarkan karakteristik dan gejala yang menyertainya.

Apa Itu Keputihan?

Keputihan adalah keluarnya cairan atau lendir dari vagina. Pada kondisi normal, cairan vagina berasal dari kombinasi lendir serviks, sekresi vagina, sel-sel yang luruh, serta mikroorganisme normal yang hidup di area tersebut.

Jumlah dan konsistensi cairan dapat berubah sepanjang siklus menstruasi. Misalnya, menjelang ovulasi, cairan dapat menjadi lebih bening, licin, dan elastis akibat perubahan hormon.

Menurut Mayo Clinic, perubahan keputihan yang disertai bau tidak sedap, gatal, rasa terbakar, atau perubahan warna dapat menjadi alasan untuk berkonsultasi dengan tenaga medis.

10 Penyebab Keputihan pada Wanita

Berikut beberapa kondisi yang dapat menyebabkan perubahan cairan vagina.

1. Perubahan Hormon

Perubahan kadar estrogen dan progesteron dapat memengaruhi jumlah serta tekstur cairan vagina.

Kondisi ini dapat terjadi selama:

  • Masa ovulasi
  • Menjelang menstruasi
  • Kehamilan
  • Masa setelah melahirkan
  • Penggunaan kontrasepsi hormonal
  • Perimenopause atau menopause

Keputihan akibat perubahan hormonal biasanya tidak disertai bau menyengat, rasa gatal, atau nyeri.

2. Bacterial Vaginosis (BV)

Bacterial vaginosis (BV) terjadi ketika keseimbangan bakteri normal di vagina mengalami perubahan.

Salah satu cirinya adalah cairan vagina yang lebih banyak dan dapat berwarna putih keabu-abuan. BV juga dapat menyebabkan bau amis, terutama setelah aktivitas seksual atau selama menstruasi.

Menurut CDC, BV merupakan kondisi vagina yang umum dan terjadi akibat perubahan keseimbangan bakteri yang secara normal terdapat di vagina.

BV memerlukan penilaian medis karena gejalanya dapat menyerupai beberapa kondisi vagina lainnya.

3. Infeksi Jamur atau Kandidiasis Vagina

Infeksi jamur, terutama yang disebabkan oleh Candida, merupakan salah satu penyebab keputihan abnormal.

Ciri yang dapat muncul antara lain:

  • Cairan putih dan kental
  • Gatal yang cukup mengganggu
  • Kemerahan atau iritasi
  • Rasa perih di area vagina

Namun, tidak semua cairan putih berarti infeksi jamur. Pemeriksaan tetap penting apabila gejala tidak membaik atau sering berulang.

4. Trikomoniasis

Trikomoniasis merupakan infeksi menular seksual yang disebabkan oleh parasit Trichomonas vaginalis.

Pada wanita, infeksi ini dapat menyebabkan:

  • Keputihan yang lebih banyak
  • Cairan berwarna putih, kekuningan, atau kehijauan
  • Bau yang tidak biasa
  • Gatal atau iritasi
  • Rasa tidak nyaman saat buang air kecil

CDC menjelaskan bahwa trikomoniasis merupakan salah satu infeksi menular seksual yang paling umum dan sebagian orang tidak mengalami gejala.

5. Infeksi Menular Seksual Lain

Beberapa infeksi menular seksual dapat menyebabkan perubahan cairan vagina. Contohnya adalah gonore dan klamidia.

Selain keputihan yang berubah, gejala dapat berupa:

  • Nyeri atau rasa terbakar saat buang air kecil
  • Perdarahan di luar menstruasi
  • Nyeri panggul
  • Nyeri saat berhubungan seksual

Namun, infeksi tertentu dapat berlangsung tanpa gejala yang jelas. Karena itu, seseorang tidak dapat menentukan penyebab hanya berdasarkan tampilan cairan.

6. Iritasi pada Area Vagina

Tidak semua keputihan abnormal disebabkan oleh infeksi. Iritasi vagina juga dapat memicu perubahan cairan.

Pemicu yang mungkin antara lain:

  • Sabun atau produk pewangi
  • Cairan pembersih vagina tertentu
  • Deterjen yang masih menempel pada pakaian dalam
  • Pembalut atau pantyliner tertentu
  • Pelumas atau produk intim yang menyebabkan iritasi

Jika keluhan muncul setelah menggunakan produk tertentu, menghentikan produk tersebut dapat membantu. Namun, jika gejalanya menetap, pemeriksaan medis tetap diperlukan.

7. Penggunaan Antibiotik

Antibiotik dapat mengubah keseimbangan mikroorganisme normal dalam tubuh. Pada sebagian wanita, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko pertumbuhan Candida secara berlebihan.

Akibatnya, dapat muncul keluhan seperti gatal dan keputihan yang lebih kental.

Karena itu, antibiotik sebaiknya digunakan sesuai indikasi dan petunjuk tenaga medis, bukan untuk mengatasi setiap jenis keputihan.

8. Kebersihan dan Kelembapan Area Genital

Lingkungan yang terlalu lembap dapat membuat area genital lebih mudah mengalami iritasi dan pada kondisi tertentu mendukung pertumbuhan mikroorganisme.

Beberapa kebiasaan yang dapat membantu menjaga kesehatan area genital antara lain:

  • Mengganti pakaian dalam secara teratur
  • Menjaga area genital tetap kering
  • Menghindari produk berpewangi yang dapat mengiritasi
  • Membersihkan area genital secara lembut
  • Menghindari praktik douching tanpa anjuran medis

Penting untuk membedakan kebersihan yang baik dengan penggunaan produk pembersih secara berlebihan. Vagina memiliki mekanisme alami untuk mempertahankan keseimbangannya.

9. Kehamilan

Kehamilan menyebabkan perubahan hormonal dan peningkatan aliran darah ke area genital. Kondisi tersebut dapat meningkatkan jumlah cairan vagina.

Keputihan selama kehamilan sering kali berupa cairan tipis berwarna putih susu dan tidak berbau menyengat.

Namun, perubahan cairan yang disertai bau tidak sedap, gatal, nyeri, perdarahan, atau keluhan lainnya perlu diperiksa. Pada kehamilan, jangan menganggap semua perubahan keputihan sebagai kondisi normal.

10. Kondisi pada Leher Rahim atau Organ Reproduksi

Pada sebagian kasus, perubahan cairan vagina dapat berkaitan dengan masalah pada leher rahim atau organ reproduksi lainnya.

Terlebih lagi jika keputihan berlangsung terus-menerus dan disertai:

  • Perdarahan setelah berhubungan seksual
  • Perdarahan di luar menstruasi
  • Nyeri panggul
  • Bau yang sangat menyengat
  • Nyeri saat berhubungan seksual

Gejala tersebut tidak otomatis berarti terdapat penyakit serius. Namun, pemeriksaan dokter diperlukan untuk mengetahui penyebab sebenarnya.

Bagaimana Membedakan Keputihan Normal dan Abnormal?

Secara umum, keputihan normal cenderung:

  • Bening atau putih
  • Tidak memiliki bau menyengat
  • Tidak menyebabkan gatal
  • Tidak menyebabkan rasa terbakar
  • Jumlah dan teksturnya dapat berubah mengikuti siklus menstruasi

Kapan Keputihan Harus Diperiksakan ke Dokter?

Sebaiknya periksakan diri jika keputihan:

  • Berubah warna secara tidak biasa
  • Mengeluarkan bau yang kuat atau tidak sedap
  • Disertai gatal atau rasa terbakar
  • Menyebabkan nyeri saat buang air kecil
  • Disertai nyeri panggul
  • Muncul bersama perdarahan di luar menstruasi
  • Berulang atau tidak membaik
  • Muncul setelah adanya risiko infeksi menular seksual

Dokter dapat menilai riwayat keluhan dan melakukan pemeriksaan yang sesuai untuk mencari penyebabnya. Pada kondisi tertentu, pemeriksaan sampel cairan vagina atau pemeriksaan lainnya mungkin diperlukan.

Mengapa Diagnosis Penyebab Keputihan Penting?

Beberapa kondisi memiliki gejala yang mirip. Misalnya, keputihan akibat BV dan trikomoniasis sama-sama dapat disertai bau yang tidak biasa, sedangkan infeksi jamur juga dapat menyebabkan rasa gatal dan perubahan cairan.

Karena itu, mengobati berdasarkan perkiraan sendiri dapat membuat penanganan tidak sesuai dengan penyebabnya. Pemeriksaan dokter membantu menentukan apakah keluhan berkaitan dengan infeksi, perubahan hormonal, iritasi, atau kondisi lain.

Selain itu, beberapa infeksi menular seksual membutuhkan penanganan khusus dan, pada kondisi tertentu, pasangan seksual juga perlu mendapatkan evaluasi.

Cara Membantu Menjaga Kesehatan Vagina

Beberapa kebiasaan sederhana dapat membantu menjaga kesehatan area genital:

  • Bersihkan area genital dengan lembut.
  • Hindari penggunaan produk pewangi pada area genital.
  • Hindari douching atau membilas bagian dalam vagina tanpa anjuran dokter.
  • Gunakan pakaian dalam yang bersih dan nyaman.
  • Ganti pakaian yang basah atau lembap sesegera mungkin.
  • Jangan menggunakan obat antijamur atau antibiotik secara sembarangan.
  • Periksakan keluhan yang menetap atau berulang.

Kesimpulan

Penyebab keputihan pada wanita sangat beragam, mulai dari perubahan hormonal yang normal hingga BV, infeksi jamur, trikomoniasis, infeksi menular seksual, iritasi, dan kondisi lain pada sistem reproduksi. Karena itu, perubahan warna, bau, tekstur, atau jumlah cairan perlu dilihat bersama gejala lain, bukan dinilai dari satu ciri saja.

Jika Anda mengalami keputihan yang tidak normal, berulang, berbau menyengat, disertai gatal, nyeri, atau keluhan lainnya, jangan menunda pemeriksaan untuk mengetahui penyebabnya. Anda dapat berkonsultasi dan mendapatkan pemeriksaan medis di Klinik Apollo Jakarta agar penyebab keluhan dapat dievaluasi dan penanganannya disesuaikan dengan kondisi Anda.

Ditinjau secara medis oleh Tim Medis Klinik Apollo Jakarta

Bagikan

Senin – Minggu 09.00 – 19.00

VISI & MISI

Mengedepankan sisi profesionalisme dalam bekerja serta mengedepankan kode etik kedokteran dan pengobatan penyakit kelamin untuk kesembuhan pasien secara menyeluruh.

Menjadi klinik spesialis kelamin dengan pelayanan kesehatan terbaik yang mengedepankan profesionalisme, keilmuan serta orientasi pasien sehingga dapat tercapai kesehatan yang berkualitas.

Butuh Bantuan Kami?

Segera konsultasikan penyakit kelamin Anda di Klinik Apollo.