Klinik Apollo – Keputihan merupakan cairan yang keluar dari vagina dan pada kondisi normal dapat membantu menjaga kesehatan serta kelembapan vagina. Namun, keputihan setelah menopause perlu di perhatikan, terutama jika jumlah, warna, bau, atau konsistensinya berubah.

Setelah menopause, kadar hormone estrogen menurun sehingga jaringan vagina menjadi lebih tipis, kering, dan kurang elastis.

Perubahan ini dapat menyebabkan genitourinary syndrome of menopause (GSM) atau sindrom genitourinaria menopause, yang dapat di sertai perubahan cairan vagina.

Meski begitu, tidak semua keputihan setelah menopause di sebabkan oleh perubahan hormon. Infeksi vagina, infeksi menular seksual (IMS), iritasi, maupun kondisi medis lainnya juga dapat menyebabkan keputihan abnormal (tidak normal).

Apakah Keputihan Setelah Menopause Normal?

Setelah menopause, produksi cairan vagina umumnya justru berkurang karena kadar estrogen menurun.

Lapisan vagina menjadi lebih tipis dan kering sehingga sebagian wanita mengalami rasa perih, gatal, terbakar, atau nyeri saat berhubungan seksual.

Karena itu, keputihan yang baru muncul atau mengalami perubahan setelah menopause sebaiknya tidak langsung di anggap sebagai kondisi normal.

Keputihan yang perlu di perhatikan antara lain:

  • Berwarna kuning, hijau, abu-abu, atau berubah dari biasanya.
  • Berbau menyengat atau tidak sedap.
  • Bertekstur sangat kental atau menggumpal.
  • Di sertai gatal atau rasa terbakar.
  • Menimbulkan nyeri pada vagina atau panggul.
  • Di sertai nyeri ketika kencing.
  • Muncul bersama bercak atau darah.

Penyebab Keputihan Setelah Menopause

Ada beberapa kemungkinan penyebab keputihan pada wanita setelah menopause, mulai dari perubahan hormon hingga infeksi.

1. Sindrom Genitourinaria Menopause (GSM)

Salah satu penyebab yang cukup umum adalah GSM akibat menurunnya kadar hormon estrogen.

Hormon strogen membantu menjaga ketebalan, kelembapan, dan elastisitas jaringan vagina.

Ketika kadarnya menurun setelah menopause, vagina dapat menjadi lebih kering dan mudah mengalami iritasi.

Kondisi tersebut sebelumnya sering di sebut sebagai atrofi vagina atau vaginitis atrofi.

Selain perubahan cairan vagina, GSM dapat menyebabkan:

  • Vagina kering.
  • Gatal atau rasa terbakar.
  • Nyeri saat berhubungan seksual.
  • Perdarahan ringan setelah berhubungan seksual.
  • Lebih sering kencing.
  • Rasa terbakar saat kencing.
  • Infeksi saluran kemih (ISK) yang lebih sering.

Mayo Clinic menjelaskan bahwa cairan akibat GSM dapat tampak tipis dan berair, lengket, kekuningan, atau keabu-abuan.

2. Vaginitis atau Infeksi Vagina

Penurunan hormon estrogen dapat mengubah kondisi lingkungan vagina sehingga risiko gangguan atau infeksi vagina dapat meningkat.

Beberapa jenis infeksi dapat menyebabkan perubahan keputihan.

a. Infeksi jamur (kandidiasis) biasanya dapat menyebabkan cairan vagina yang lebih kental dan menggumpal, disertai gatal atau rasa terbakar.

b. Bacterial vaginosis (BV) dapat menyebabkan cairan yang lebih banyak dan berbau amis.

c. Sementara itu, trikomoniasis dapat menyebabkan cairan berwarna kekuningan atau kehijauan dan di sertai iritasi.

Karena gejala berbagai kondisi tersebut dapat tumpang tindih, pemeriksaan dokter ahli dapat membantu menentukan penyebab sebelum pengobatan di berikan.

3. Infeksi Menular Seksual (IMS)

Keputihan setelah menopause juga dapat berkaitan dengan infeksi menular seksual (IMS), terutama jika terdapat faktor risiko seperti pasangan seksual baru.

Infeksi seperti trikomoniasis, gonore (kencing nanah), dan klamidia dapat menyebabkan perubahan cairan vagina.

Oleh sebab itu, jangan menganggap keputihan setelah menopause pasti di sebabkan oleh hormon.

4. Iritasi pada Area Kewanitaan

Penggunaan produk tertentu juga dapat mengiritasi vulva atau vagina.

Contohnya adalah sabun berpewangi, produk pembersih kewanitaan, atau praktik douching.

Mayo Clinic menyarankan untuk tidak membersihkan bagian dalam vagina karena tindakan tersebut dapat memperburuk iritasi dan keluhan keputihan.

5. Kondisi Medis Lain

Walaupun lebih jarang, perubahan keputihan dapat berkaitan dengan masalah medis lain pada organ reproduksi.

Karena itu, keputihan baru yang muncul setelah menopause sebaiknya di periksa, terutama jika di sertai darah, nyeri, atau perubahan yang menetap.

Keputihan Setelah Menopause Berbau, Apa Penyebabnya?

Keputihan berbau tidak sedap setelah menopause dapat di sebabkan oleh perubahan keseimbangan mikroorganisme vagina atau infeksi.

Contohnya, bacterial vaginosis (BV) sering di kaitkan dengan cairan yang lebih banyak dan bau amis.

Trikomoniasis juga dapat menyebabkan perubahan warna dan bau cairan vagina.

Namun, bau saja tidak cukup untuk menentukan penyebab.

Dokter ahli mungkin perlu melakukan pemeriksaan vagina dan, bila di perlukan, mengambil sampel cairan untuk pemeriksaan laboratorium.

Keputihan Setelah Menopause Disertai Darah, Apakah Berbahaya?

Perdarahan setelah menopause tidak boleh di abaikan.

Menopause secara medis di tandai setelah seseorang tidak mengalami menstruasi selama 12 bulan berturut-turut.

Setelah periode tersebut, munculnya perdarahan atau bahkan bercak darah perlu di periksa oleh tenaga medis.

Penyebabnya dapat beragam, termasuk penipisan jaringan vagina atau rahim, polip, miom, efek terapi hormon, infeksi, hingga kanker pada organ reproduksi.

Sebagian besar penyebab tidak selalu merupakan kanker, tetapi pemeriksaan di perlukan untuk mengetahui penyebab sebenarnya.

Jadi, jika keputihan setelah menopause bercampur darah, jangan hanya menganggapnya sebagai efek menopause.

Bagaimana Dokter Ahli Mendiagnosis Penyebab Keputihan?

Dokter ahli akan mempertimbangkan beberapa hal, seperti:

1. Riwayat keluhan

Dokter ahli dapat menanyakan kapan keputihan mulai muncul, perubahan warna dan bau, serta gejala lain yang menyertainya.

2. Pemeriksaan area genital

Pemeriksaan dapat membantu melihat kondisi vulva dan vagina serta tanda-tanda iritasi atau infeksi.

3. Pemeriksaan cairan vagina

Bila di curigai infeksi, sampel cairan dapat di periksa untuk mengetahui penyebabnya.

4. Pemeriksaan tambahan bila diperlukan

Jika terdapat perdarahan setelah menopause atau temuan yang mencurigakan, dokter ahli dapat merekomendasikan pemeriksaan lebih lanjut sesuai kondisi.

Dengan demikian, jangan membeli obat-obatan keputihan secara sembarangan, karena pengobatan harus di sesuaikan dengan penyebabnya.

Cara Mengatasi Keputihan Setelah Menopause

Penanganannya bergantung pada penyebab.

1. Jika disebabkan GSM

Dokter ahli dapat mempertimbangkan terapi untuk mengatasi kekeringan dan iritasi akibat rendahnya hormon estrogen.

Pilihannya dapat berupa pelembap vagina, pelumas berbasis air, atau terapi hormon estrogen vagina pada pasien tertentu.

Terapi hormon tidak cocok untuk semua orang.

Karena itu, penggunaannya sebaiknya berdasarkan penilaian dokter ahli.

2. Jika disebabkan infeksi

Pengobatan akan di sesuaikan dengan jenis infeksi. Infeksi bakteri, jamur, dan parasit membutuhkan pendekatan yang berbeda.

Karena itu, hindari menggunakan antibiotik atau obat-obatan antijamur tanpa memastikan penyebabnya.

3. Jika disebabkan iritasi

Hindari produk berpewangi atau bahan yang dapat mengiritasi area kewanitaan.

Bersihkan bagian luar vagina dengan lembut dan hindari membersihkan bagian dalam vagina.

Kapan Harus ke Dokter Ahli?

Segera buat janji pemeriksaan jika Anda mengalami:

  • Keputihan yang baru muncul setelah menopause.
  • Keputihan berbau menyengat.
  • Cairan berwarna kuning, hijau, atau abu-abu.
  • Gatal atau rasa terbakar.
  • Nyeri saat kencing.
  • Nyeri saat berhubungan seksual.
  • Nyeri panggul.
  • Keputihan di sertai darah atau bercak.
  • Keluhan yang terus berulang (kambuh) atau tidak membaik.

Terutama setelah menopause, perdarahan vagina perlu mendapatkan evaluasi medis, meskipun hanya berupa bercak ringan.

Kesimpulan

Keputihan setelah menopause dapat terjadi akibat perubahan kadar hormon estrogen, GSM, infeksi vagina, IMS (infeksi menular seksual), iritasi, maupun kondisi medis lainnya.

Karena produksi cairan vagina biasanya berkurang setelah menopause, perubahan keputihan yang baru muncul, berbau, berubah warna, di sertai gatal, nyeri, atau darah sebaiknya tidak di abaikan.

Menentukan penyebab sejak awal membantu pasien mendapatkan penanganan yang sesuai dan menghindari penggunaan obat-obatan yang tidak di perlukan. Jika terdapat perdarahan setelah menopause, pemeriksaan dokter ahli juga penting untuk memastikan tidak ada penyebab yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Jika Anda mengalami keputihan setelah menopause, vagina kering, gatal, bau tidak sedap, nyeri, atau perdarahan, segera konsultasikan kondisi Anda ke dokter ahli di Klinik Apollo. Pemeriksaan membantu mengetahui penyebab keluhan secara lebih tepat sehingga dokter ahli dapat menentukan penanganan yang sesuai, sekaligus mendapatkan layanan medis profesional dengan pemeriksaan yang menyeluruh dan menjaga privasi pasien.

Ditinjau secara medis oleh Tim Medis Klinik Apollo Jakarta

Bagikan

Senin – Minggu 09.00 – 19.00

VISI & MISI

Mengedepankan sisi profesionalisme dalam bekerja serta mengedepankan kode etik kedokteran dan pengobatan penyakit kelamin untuk kesembuhan pasien secara menyeluruh.

Menjadi klinik spesialis kelamin dengan pelayanan kesehatan terbaik yang mengedepankan profesionalisme, keilmuan serta orientasi pasien sehingga dapat tercapai kesehatan yang berkualitas.

Butuh Bantuan Kami?

Segera konsultasikan penyakit kelamin Anda di Klinik Apollo.