Klinik Apollo – Sifilis merupakan salah satu penyakit menular seksual (PMS) yang hingga kini masih menjadi perhatian di berbagai negara.
Namun, di Indonesia, banyak orang lebih mengenalnya dengan istilah Raja Singa. Tidak sedikit yang bertanya, kenapa sifilis disebut Raja Singa?
Apakah nama tersebut memiliki kaitan dengan penyebab penyakit atau hanya sekadar istilah masyarakat? Memahami asal-usul sebutan ini penting agar masyarakat tidak salah memahami penyakit sifilis.
Selain itu, mengenali gejala sejak dini juga dapat membantu mencegah komplikasi yang lebih serius.
Apa Itu Sifilis?
Sifilis adalah infeksi bakteri yang di sebabkan oleh Treponema pallidum.
Penyakit ini paling sering menular melalui hubungan seksual tanpa penggunaan pengaman (kondom atau pelindung) dengan seseorang yang terinfeksi.
Selain itu, sifilis juga dapat di tularkan dari ibu hamil kepada janin selama kehamilan (sifilis kongenital).
Pada tahap awal, sifilis sering kali tidak menimbulkan keluhan yang berat sehingga banyak penderita tidak menyadari dirinya telah terinfeksi.
Kenapa Sifilis Disebut Raja Singa?
Kenapa Sifilis Disebut raja singa? Istilah Raja Singa bukanlah istilah medis, melainkan sebutan yang telah lama di gunakan oleh masyarakat Indonesia.
Menurut berbagai literatur sejarah kesehatan, istilah ini di duga muncul pada masa kolonial sebagai terjemahan atau penyebutan lokal terhadap penyakit yang di anggap sangat berbahaya karena dapat menyerang berbagai organ tubuh apabila tidak di obati.
Sebutan “Raja” menggambarkan penyakit yang dianggap memiliki dampak serius, sedangkan “Singa” melambangkan keganasan atau kekuatan penyakit tersebut.
Meskipun demikian, hingga saat ini belum terdapat bukti ilmiah yang menyatakan bahwa istilah tersebut berasal dari organisasi kesehatan atau dunia medis. Oleh karena itu, dalam praktik kedokteran modern, tenaga kesehatan tetap menggunakan istilah sifilis.
Penyebab Sifilis
Penyebab utama sifilis adalah infeksi bakteri Treponema pallidum.
Penularan dapat terjadi melalui:
- Hubungan seksual vaginal, anal, maupun oral.
- Kontak langsung dengan luka sifilis (chancre).
- Penularan dari ibu ke bayi selama kehamilan.
- Dalam kasus yang sangat jarang, melalui transfusi darah yang tidak memenuhi standar keamanan.
- Sifilis tidak menular melalui:
- Berjabat tangan.
- Berbagi makanan.
- Dudukan toilet.
- Kolam renang.
- Berpelukan.
Gejala Sifilis Berdasarkan Stadium
Gejala sifilis berkembang secara bertahap.
1. Stadium Primer
Pada tahap awal biasanya muncul:
- Luka kecil (chancre) yang tidak terasa nyeri.
- Luka dapat muncul di penis, vagina, anus, bibir, atau mulut.
- Pembengkakan kelenjar getah bening di sekitar area yang terinfeksi.
Karena luka tidak terasa sakit, banyak penderita tidak menyadarinya.
2. Stadium Sekunder
Jika tidak di obati, beberapa minggu atau bulan kemudian dapat muncul:
- Ruam pada telapak tangan dan telapak kaki.
- Demam.
- Nyeri tenggorokan.
- Rambut rontok sebagian.
- Kutil datar di area genital.
- Kelelahan.
3. Stadium Laten
Pada fase ini, gejala dapat menghilang.
Namun, bakteri masih tetap berada di dalam tubuh sehingga penyakit dapat berkembang ke tahap berikutnya apabila tidak mendapatkan terapi.
4. Stadium Tersier
Tanpa pengobatan, sifilis dapat menyebabkan komplikasi serius, seperti:
- Gangguan otak dan saraf (neurosifilis).
- Gangguan jantung dan pembuluh darah.
- Kerusakan mata yang dapat menyebabkan gangguan penglihatan.
- Kerusakan organ lainnya.
Apakah Sifilis Bisa Disembuhkan?
Ya.
Sifilis dapat di obati, terutama jika terdeteksi pada stadium awal.
Pengobatan yang di berikan dokter ahli bertujuan untuk membasmi bakteri penyebab infeksi serta mencegah komplikasi lebih lanjut.
Oleh karena itu, pemeriksaan sejak muncul gejala awal sangat di anjurkan.
Bagaimana Cara Mencegah Sifilis?
Risiko penularan dapat di kurangi dengan beberapa langkah berikut:
- Menghindari hubungan seksual berisiko.
- Menggunakan kondom (pengaman atau pelindung) secara benar dan konsisten (meski tidak memberikan perlindungan 100% jika luka berada di area yang tidak tertutup kondom).
- Melakukan pemeriksaan kesehatan seksual secara berkala jika memiliki faktor risiko.
- Tidak berganti-ganti pasangan seksual.
- Berkonsultasi ke dokter ahli apabila muncul luka atau ruam yang mencurigakan.
Data Medis Mengenai Sifilis
Menurut World Health Organization (WHO), di perkirakan terdapat sekitar 8 juta kasus baru sifilis pada orang dewasa usia 15 hingga 49 tahun di seluruh dunia setiap tahunnya.
Sifilis tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat karena dapat meningkatkan risiko komplikasi serius apabila tidak di tangani dengan tepat.
Sementara itu, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menjelaskan bahwa sifilis sering kali tidak menunjukkan gejala yang jelas pada tahap awal.
Oleh sebab itu, pemeriksaan laboratorium sangat penting untuk memastikan diagnosis, terutama pada individu yang memiliki faktor risiko.
Kapan Harus ke Dokter Ahli?
Segera lakukan pemeriksaan apabila Anda mengalami:
- Luka pada area kelamin, anus, atau mulut.
- Ruam yang tidak di ketahui penyebabnya.
- Riwayat kontak seksual dengan penderita sifilis.
- Pasangan di diagnosis mengalami penyakit menular seksual (PMS).
- Sedang merencanakan kehamilan atau sedang hamil dengan faktor risiko.
Pemeriksaan lebih awal membantu dokter ahli menentukan diagnosis serta memberikan penanganan yang sesuai.
Kesimpulan
Kenapa sifilis disebut Raja Singa? Sebutan tersebut merupakan istilah yang berkembang di masyarakat Indonesia untuk menggambarkan sifilis sebagai penyakit yang dapat menimbulkan komplikasi serius apabila tidak di tangani.
Namun, istilah tersebut bukanlah nama medis resmi.
Yang terpenting bukan hanya mengetahui asal-usul namanya, tetapi juga memahami cara penularan, mengenali gejala, dan segera melakukan pemeriksaan apabila terdapat tanda-tanda yang mengarah pada sifilis.
Diagnosis serta pengobatan sejak dini dapat membantu mencegah komplikasi dan mengurangi risiko penularan kepada orang lain.
Konsultasikan Keluhan Anda di Klinik Apollo Jakarta
Apabila Anda mengalami luka pada area genital, ruam yang tidak di ketahui penyebabnya, atau memiliki kekhawatiran terkait sifilis maupun penyakit menular seksual (PMS) lainnya, segera lakukan konsultasi di Klinik Apollo Jakarta.
Dokter ahli akan melakukan evaluasi menyeluruh, termasuk pemeriksaan yang di perlukan untuk menegakkan diagnosis dan menentukan terapi sesuai kondisi Anda.
Di Klinik Apollo Jakarta, Anda akan mendapatkan pelayanan yang mengutamakan privasi pasien, pemeriksaan oleh tenaga medis berpengalaman, serta penanganan yang di sesuaikan dengan hasil diagnosis.
Semakin cepat Anda berkonsultasi, semakin besar peluang untuk memperoleh penanganan yang tepat dan mencegah komplikasi di kemudian hari.
Ditinjau secara medis oleh Tim Medis Klinik Apollo Jakarta
JAM OPERASIONAL
| Senin – Minggu | 09.00 – 19.00 |


