Klinik Apollo – Sifilis merupakan infeksi menular seksual (IMS) yang disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum. Penyakit ini berkembang melalui beberapa tahap.

Jika tidak mendapatkan pengobatan yang tepat, sifilis tahap tersier, yaitu tahap lanjut yang dapat menyebabkan kerusakan serius pada berbagai organ tubuh.

Berbeda dengan sifilis primer yang biasanya di tandai luka pada area masuknya bakteri atau sifilis sekunder yang dapat menyebabkan ruam, sifilis tersier dapat muncul bertahun-tahun setelah infeksi awal.

Pada tahap ini, kerusakan organ dapat terjadi meskipun gejala sifilis sebelumnya sudah menghilang. Karena itu, memahami gejala sifilis tahap tersier, bahayanya, pemeriksaan, dan pengobatannya penting agar infeksi dapat di tangani sedini mungkin.

Catatan: Informasi ini bersifat edukasi dan tidak menggantikan diagnosis dokter ahli. Sifilis memerlukan pemeriksaan medis dan pengobatan yang sesuai.

Apa Itu Sifilis Tahap Tersier?

Sifilis tahap tersier merupakan tahap lanjut dari infeksi Treponema pallidum yang dapat terjadi setelah fase laten.

Pada sebagian orang yang tidak mendapatkan pengobatan, komplikasi sifilis dapat muncul bertahun-tahun atau bahkan beberapa dekade setelah infeksi awal.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), sifilis tersier dapat memengaruhi beberapa sistem organ, terutama jantung dan pembuluh darah, otak dan sistem saraf, serta organ lainnya.

Tidak semua orang dengan sifilis yang tidak di obati akan mengalami sifilis tersier. Namun, karena komplikasinya dapat berat dan permanen, pemeriksaan serta pengobatan sejak tahap awal tetap sangat penting.

Tahapan Sifilis Sebelum Mencapai Stadium Tersier

Sifilis umumnya berkembang melalui beberapa tahap:

1. Sifilis Primer

Tahap pertama biasanya di tandai dengan chancre, yaitu luka yang umumnya tidak terasa sakit di tempat bakteri masuk ke tubuh.

Luka dapat sembuh sendiri dalam beberapa minggu.

Namun, hilangnya luka bukan berarti infeksi telah sembuh.

2. Sifilis Sekunder

Pada tahap berikutnya, penderita dapat mengalami:

  • Ruam pada kulit.
  • Ruam pada telapak tangan atau kaki.
  • Demam.
  • Pembengkakan kelenjar getah bening.
  • Sakit tenggorokan.
  • Kelelahan.
  • Rambut rontok sebagian.
  • Luka atau lesi pada mulut, genital, atau area lainnya.

Gejala sifilis sekunder juga dapat menghilang tanpa pengobatan, kemudian penyakit memasuki fase laten.

3. Sifilis Laten

Pada fase laten, seseorang tidak menunjukkan gejala yang terlihat, tetapi infeksi masih berada di dalam tubuh.

Fase ini dapat berlangsung lama.

Karena tidak ada gejala yang jelas, seseorang bisa tidak menyadari bahwa dirinya masih terinfeksi.

4. Sifilis Tersier

Jika infeksi tidak mendapatkan terapi yang tepat, sebagian penderita dapat mengalami komplikasi lanjut yang memengaruhi organ tubuh.

Oleh sebab itu, tidak adanya gejala bukan berarti sifilis sudah sembuh.

Gejala Sifilis Tahap Tersier

Gejala sifilis tersier sangat bergantung pada organ yang terkena.

Beberapa penderita dapat mengalami masalah pada jantung dan pembuluh darah, sedangkan lainnya mengalami komplikasi neurologis.

Berikut beberapa kondisi yang dapat terjadi.

1. Masalah pada Jantung dan Pembuluh Darah

Sifilis kardiovaskular dapat memengaruhi aorta dan struktur pembuluh darah besar.

Komplikasinya dapat meliputi:

  • Aneurisma aorta.
  • Peradangan pada aorta.
  • Kerusakan katup aorta.
  • Gangguan fungsi jantung.

Kerusakan pada pembuluh darah besar dapat menjadi kondisi serius sehingga membutuhkan evaluasi medis.

2. Neurosifilis

Neurosifilis terjadi ketika infeksi sifilis melibatkan sistem saraf.

Kondisi ini dapat muncul pada berbagai tahap sifilis dan tidak hanya terbatas pada sifilis tersier.

Gejalanya bergantung pada bagian sistem saraf yang terkena.

Beberapa gejala dapat berupa:

  • Sakit kepala.
  • Gangguan penglihatan.
  • Gangguan pendengaran.
  • Kebingungan.
  • Perubahan perilaku.
  • Gangguan koordinasi.
  • Kelemahan atau gangguan gerakan.
  • Gangguan fungsi kognitif.

CDC menjelaskan bahwa sifilis dapat memengaruhi sistem saraf pada tahap penyakit apa pun.

3. Gangguan Mata atau Neurosifilis Okular

Sifilis juga dapat menyerang mata.

Keluhan yang mungkin muncul antara lain:

  • Penglihatan kabur.
  • Nyeri mata.
  • Mata berwarna merah.
  • Sensitivitas terhadap cahaya.
  • Penurunan penglihatan.

Sifilis okular perlu mendapatkan evaluasi medis karena keterlambatan penanganan dapat meningkatkan risiko gangguan penglihatan.

4. Gangguan Pendengaran

Infeksi sifilis juga dapat memengaruhi sistem pendengaran.

Seseorang mungkin mengalami:

  • Telinga berdenging.
  • Penurunan pendengaran.
  • Gangguan keseimbangan.

CDC merekomendasikan evaluasi khusus pada pasien dengan gejala pendengaran yang berkaitan dengan sifilis.

5. Guma atau Gumma Sifilis

Gumma merupakan lesi inflamasi yang dapat muncul pada sifilis tahap lanjut.

Gumma dapat berkembang pada:

  • Kulit.
  • Tulang.
  • Hati.
  • Organ lainnya.

Meskipun jarang, kondisi tersebut merupakan salah satu manifestasi sifilis lanjut.

Seberapa Berbahaya Sifilis Tahap Tersier?

Sifilis tersier berbahaya karena kerusakannya tidak hanya terjadi pada kulit atau organ reproduksi.

Jika sifilis menyerang sistem saraf, jantung, pembuluh darah, mata, atau organ lainnya, komplikasi dapat menyebabkan gangguan fungsi organ jangka panjang.

Dalam beberapa kasus, kerusakan yang telah terjadi tidak sepenuhnya dapat di pulihkan meskipun bakteri kemudian berhasil di atasi.

Karena itu, prinsip terpenting dalam menangani sifilis adalah melakukan diagnosis dan pengobatan sedini mungkin.

Apakah Sifilis Tahap Tersier Bisa Disembuhkan?

Infeksi sifilis dapat di obati dengan antibiotik yang tepat. Namun, pengobatan tidak selalu dapat membalikkan kerusakan organ yang sudah terjadi.

CDC merekomendasikan pengobatan untuk sifilis laten tertentu dan regimen yang sesuai berdasarkan tahap serta kondisi pasien.

Sementara itu, neurosifilis, sifilis okular, dan otosifilis membutuhkan regimen yang berbeda dan evaluasi khusus.

Oleh karena itu, pasien tidak sebaiknya menentukan jenis antibiotik atau dosis sendiri. Dokter ahli perlu menentukan tahap sifilis terlebih dahulu sebelum memilih terapi.

Bagaimana Cara Mendiagnosis Sifilis Tersier?

Diagnosis sifilis tidak hanya berdasarkan gejala.

Dokter ahli dapat menggunakan kombinasi:

1. Pemeriksaan darah

Pemeriksaan serologi sifilis umumnya melibatkan 2 kelompok tes:

  • Treponemal test, seperti TP-PA atau tes treponemal lainnya.
  • Nontreponemal test, seperti RPR atau VDRL.

Kedua jenis pemeriksaan memiliki fungsi yang berbeda dalam membantu diagnosis dan pemantauan terapi.

2. Pemeriksaan tambahan

Jika terdapat dugaan komplikasi pada sistem saraf, mata, atau telinga, dokter ahli dapat melakukan pemeriksaan tambahan sesuai gejala.

Pada dugaan neurosifilis, misalnya, pemeriksaan cairan serebrospinal dapat di pertimbangkan berdasarkan kondisi klinis pasien.

CDC menekankan pentingnya pemeriksaan klinis dan serologis untuk membantu menentukan diagnosis serta tahap sifilis.

Apakah Sifilis Tersier Masih Bisa Menular?

Risiko penularan sifilis terutama tinggi ketika terdapat luka aktif pada tahap primer atau sekunder.

Sifilis tersier sendiri bukan fase yang paling menular melalui kontak seksual.

Namun, seseorang dengan riwayat sifilis tetap perlu mendapatkan evaluasi medis karena status infeksi dan risiko penularan tidak dapat di tentukan hanya berdasarkan ada atau tidaknya gejala.

Selain itu, orang yang di diagnosis sifilis perlu membicarakan pemeriksaan dan penanganan pasangan seksual dengan tenaga kesehatan.

Mengapa Sifilis Sering Tidak Disadari?

Salah satu alasan sifilis berbahaya adalah gejalanya dapat menghilang sementara tanpa pengobatan.

Misalnya, luka pada sifilis primer dapat sembuh sendiri. Kemudian ruam pada sifilis sekunder juga dapat menghilang.

Seseorang akhirnya merasa sudah sehat dan tidak melakukan pemeriksaan. Padahal, bakteri masih dapat berada di dalam tubuh.

Inilah sebabnya pemeriksaan sangat penting bagi orang yang memiliki faktor risiko atau pernah mengalami gejala yang mencurigakan.

Kapan Harus Melakukan Tes Sifilis?

Pertimbangkan pemeriksaan medis jika:

  • Pernah melakukan hubungan seksual tanpa kondom (pengaman atau pelindung) dengan pasangan seksual yang status IMS (infeksi menular seksual) nya tidak di ketahui.
  • Memiliki pasangan seksual baru.
  • Pernah mengalami luka tanpa nyeri di area genital.
  • Pernah mengalami ruam yang tidak di ketahui penyebabnya.
  • Mengalami cairan genital yang tidak normal (abnormal).
  • Memiliki pasangan seksual yang di diagnosis sifilis.
  • Memiliki gejala gangguan penglihatan, pendengaran, atau saraf yang tidak di ketahui penyebabnya.

Pemeriksaan juga penting bagi orang yang sebelumnya pernah di diagnosis sifilis untuk memastikan respons terhadap pengobatan melalui pemantauan yang di anjurkan dokter ahli.

Jangan Mengobati Sifilis Sendiri

Mengonsumsi antibiotik secara sembarangan bukan cara yang tepat untuk menangani sifilis.

Jenis obat-obatan, dosis, dan lama terapi harus di sesuaikan dengan tahap penyakit, kondisi klinis, alergi obat-obatan, kehamilan, serta ada atau tidaknya keterlibatan sistem saraf atau organ tertentu.

Selain itu, pasien yang sedang menjalani terapi perlu mengikuti jadwal kontrol untuk memantau respons pengobatan.

Jika Anda memiliki pasangan seksual, dokter ahli juga dapat memberikan edukasi mengenai pemeriksaan dan penanganan pasangan untuk membantu mencegah infeksi berulang (kambuh).

Sifilis Tahap Tersier pada Ibu Hamil

Sifilis menjadi perhatian khusus selama kehamilan karena infeksi dapat di tularkan dari ibu kepada janin dan menyebabkan sifilis kongenital.

CDC merekomendasikan pemeriksaan sifilis bagi ibu hamil pada waktu-waktu tertentu selama kehamilan berdasarkan pedoman dan faktor risiko.

Pengobatan ini merupakan terapi yang di gunakan untuk sifilis selama kehamilan.

Jika Anda sedang hamil dan memiliki riwayat atau risiko sifilis, jangan menunda konsultasi dengan dokter ahli.

Cara Mencegah Sifilis

Beberapa langkah dapat membantu menurunkan risiko infeksi:

  • Menggunakan kondom (pengaman atau pelindung) secara benar dan konsisten.
  • Mengurangi risiko berganti-ganti pasangan seksual.
  • Melakukan pemeriksaan IMS (infeksi menular seksual) jika memiliki faktor risiko.
  • Tidak melakukan hubungan seksual ketika terdapat luka atau lesi genital yang mencurigakan.
  • Mengikuti pengobatan sampai selesai jika di diagnosis sifilis.
  • Mengikuti anjuran dokter ahli mengenai pemeriksaan dan penanganan pasangan seksual.

Perlu di pahami bahwa kondom mengurangi risiko, tetapi tidak memberikan perlindungan 100% terhadap sifilis karena luka dapat berada di area yang tidak tertutup kondom (pengaman atau pelindung).

Kesimpulan

Sifilis tahap tersier merupakan komplikasi lanjut infeksi Treponema pallidum yang dapat menyerang jantung, pembuluh darah, otak, sistem saraf, mata, telinga, tulang, dan organ lainnya. Kondisi ini dapat berkembang setelah periode laten dan tidak selalu di dahului gejala yang jelas.

Kabar baiknya, sifilis dapat di tangani dengan antibiotik yang sesuai. Namun, pengobatan lebih dini memberikan peluang lebih baik untuk mencegah komplikasi dan kerusakan organ yang menetap. Karena itu, jangan menunggu sampai muncul gejala berat untuk melakukan pemeriksaan.

Jika Anda memiliki gejala yang mengarah pada sifilis, pernah melakukan hubungan seksual berisiko, atau ingin memastikan status kesehatan setelah paparan, konsultasikan kondisi Anda ke Klinik Apollo Jakarta untuk mendapatkan pemeriksaan, diagnosis yang lebih tepat, pilihan pengobatan sesuai kondisi, serta layanan yang mengutamakan privasi pasien.

Semakin cepat di periksa, semakin cepat Anda dapat mengetahui kondisi sebenarnya dan mendapatkan penanganan yang sesuai.

Ditinjau secara medis oleh Tim Medis Klinik Apollo Jakarta

Bagikan

Senin – Minggu 09.00 – 19.00

VISI & MISI

Mengedepankan sisi profesionalisme dalam bekerja serta mengedepankan kode etik kedokteran dan pengobatan penyakit kelamin untuk kesembuhan pasien secara menyeluruh.

Menjadi klinik spesialis kelamin dengan pelayanan kesehatan terbaik yang mengedepankan profesionalisme, keilmuan serta orientasi pasien sehingga dapat tercapai kesehatan yang berkualitas.

Butuh Bantuan Kami?

Segera konsultasikan penyakit kelamin Anda di Klinik Apollo.