Klinik Apollo – Cara mengobati sifilis perlu disesuaikan dengan tahap dan kondisi infeksi. Sifilis merupakan infeksi menular seksual (IMS) yang di sebabkan oleh bakteri Treponema pallidum.
Meskipun dapat di sembuhkan dengan pengobatan yang tepat, sifilis yang tidak di tangani dapat berkembang dan menyebabkan komplikasi serius. Banyak penderita bahkan tidak menyadari dirinya terinfeksi karena gejalanya dapat ringan, tidak khas, atau menghilang sementara tanpa pengobatan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 8 juta orang dewasa usia 15 hingga 49 tahun memperoleh infeksi sifilis pada 2022. Karena itu, pengobatan sebaiknya tidak hanya berfokus pada menghilangkan gejala.
Dokter ahli perlu memastikan diagnosis, menentukan stadium penyakit, memberikan antibiotik yang sesuai, dan melakukan pemantauan setelah terapi.
- Apakah Sifilis Bisa Disembuhkan?
- Bagaimana Cara Mengobati Sifilis?
- Bagaimana Jika Alergi?
- Cara Mengobati Sifilis pada Ibu Hamil
- Apakah Sifilis Bisa Sembuh dengan Obat-obatan Minum?
- Apakah Sekali Suntik Sifilis Langsung Sembuh?
- Mengapa Setelah Suntik Sifilis Masih Perlu Kontrol?
- Apakah Pasangan Seksual Juga Perlu Diperiksa?
- Bolehkah Berhubungan Seksual Setelah Pengobatan Sifilis?
- Hindari Mengobati Sifilis Sendiri
- Kapan Harus Memeriksakan Diri?
- Kesimpulan
Apakah Sifilis Bisa Disembuhkan?
Ya, sifilis dapat di sembuhkan dengan antibiotik yang tepat.
Namun, pengobatan tidak selalu dapat memperbaiki kerusakan organ yang sudah terjadi akibat infeksi lama.
Karena itu, semakin dini sifilis di temukan dan di tangani, semakin besar peluang untuk mencegah komplikasi.
WHO merekomendasikan pengobatan sebagai terapi lini pertama untuk sifilis. Jumlah pemberian bergantung pada tahap infeksi.
Penting: jangan menentukan obat-obatan atau jumlah suntikan sendiri. Stadium sifilis harus di nilai oleh dokter ahli berdasarkan riwayat, pemeriksaan fisik, hasil tes, dan kondisi pasien.
Bagaimana Cara Mengobati Sifilis?
Berikut cara mengobatinya:
1. Melakukan pemeriksaan terlebih dahulu
Sebelum menentukan terapi, dokter ahli biasanya mengevaluasi:
- Riwayat keluhan dan kemungkinan paparan.
- Riwayat hubungan seksual.
- Adanya luka atau ruam pada kulit dan area genital.
- Hasil pemeriksaan darah.
- Stadium sifilis.
- Riwayat pengobatan sebelumnya.
- Kemungkinan infeksi menular seksual (IMS) lainnya.
Pemeriksaan darah dapat menggunakan tes treponemal dan nontreponemal, seperti RPR atau VDRL.
Hasil pemeriksaan tersebut membantu dokter ahli menilai apakah seseorang terinfeksi dan membantu pemantauan respons terhadap pengobatan.
WHO juga menyebutkan bahwa tes cepat dapat membantu mendeteksi sifilis dan memungkinkan pengobatan di mulai lebih cepat pada pasien yang hasilnya positif.
2. Sifilis tahap awal
Sifilis primer dan sekunder termasuk tahap awal. Menurut pedoman CDC, regimen yang direkomendasikan untuk orang dewasa dengan sifilis primer atau sekunder adalah 2,4 juta unit melalui suntikan intramuskular dalam 1 dosis.
Pada tahap ini, pengobatan bertujuan menghentikan infeksi dan membantu mencegah perkembangan penyakit ke tahap berikutnya.
Gejala seperti luka sifilis atau ruam dapat membaik setelah terapi.
Namun, hilangnya gejala tidak boleh menjadi satu-satunya patokan bahwa infeksi sudah terkendali. Pemeriksaan dan pemantauan tetap penting.
3. Sifilis laten
Sifilis laten terjadi ketika hasil pemeriksaan menunjukkan infeksi tetapi tidak terdapat gejala klinis yang jelas.
Pengobatannya berbeda berdasarkan kapan infeksi di peroleh. Untuk early latent syphilis, CDC merekomendasikan 2,4 juta unit secara intramuskular dalam 1 dosis.
Sementara itu, untuk late latent syphilis atau sifilis dengan durasi yang tidak di ketahui, regimen yang di rekomendasikan adalah total 7,2 juta unit, di berikan sebagai 3 dosis masing-masing 2,4 juta unit dengan interval 1 minggu.
Karena itu, seseorang tidak sebaiknya menentukan sendiri apakah cukup mendapatkan 1 suntikan atau membutuhkan beberapa kali terapi.
4. Sifilis tahap lanjut
Sifilis yang sudah berlangsung lama dapat menyebabkan komplikasi pada berbagai organ, termasuk sistem kardiovaskular dan saraf.
Pada sifilis tersier tertentu tanpa keterlibatan sistem saraf, CDC merekomendasikan total 7,2 juta unit dalam 3 dosis mingguan, setelah evaluasi yang sesuai.
Namun, jika terdapat dugaan neurosifilis, sifilis mata, atau sifilis telinga, penanganannya berbeda dan memerlukan evaluasi khusus.
5. Neurosifilis, sifilis mata, dan sifilis telinga
Treponema pallidum dapat menyerang sistem saraf pada berbagai tahap penyakit.
Sifilis juga dapat mengenai mata atau telinga.
Waspadai gejala seperti:
- Penglihatan kabur atau menurun.
- Nyeri pada mata.
- Sensitif terhadap cahaya.
- Gangguan pendengaran.
- Telinga berdenging.
- Vertigo.
- Gangguan saraf.
- Sakit kepala berat atau perubahan kondisi mental.
Sifilis mata dapat menyebabkan kehilangan penglihatan permanen, sedangkan sifilis telinga dapat menyebabkan gangguan pendengaran permanen.
Jika muncul gejala tersebut, jangan hanya mencari obat-obatan sifilis secara mandiri.
Pasien membutuhkan evaluasi medis dan regimen antibiotik yang sesuai dengan keterlibatan organ.
Bagaimana Jika Alergi?
Jangan langsung mengganti antibiotik sendiri. Untuk beberapa kondisi sifilis pada orang yang tidak hamil, dokter ahli dapat mempertimbangkan alternatif tertentu.
Namun, pilihan tersebut bergantung pada stadium, kondisi pasien, kepatuhan terhadap terapi, dan kemampuan melakukan pemantauan.
Yang sangat penting, kehamilan memiliki aturan khusus.
CDC menyatakan bahwa pengobatan ini merupakan terapi yang memiliki efektivitas terbukti untuk mengobati sifilis selama kehamilan. Ibu hamil dengan riwayat alergi perlu menjalani desensitisasi dan kemudian mendapatkan penisilin sesuai regimen yang di anjurkan.
Cara Mengobati Sifilis pada Ibu Hamil
Sifilis pada kehamilan membutuhkan perhatian khusus karena bakteri dapat di tularkan dari ibu kepada janin.
WHO memperkirakan sekitar 1,1 juta ibu hamil mengalami sifilis pada 2022, dengan lebih dari 390.000 hasil kehamilan yang merugikan terkait sifilis.
Karena itu, ibu hamil yang mendapatkan diagnosis sifilis perlu segera mendapatkan penanganan. Pengobatan ini merupakan satu-satunya terapi yang terbukti efektif untuk mengobati infeksi janin dan mencegah sifilis kongenital.
Jika Anda sedang hamil dan memiliki hasil tes sifilis positif, jangan menunda pengobatan dan jangan mengganti terapi dengan obat-obatan sendiri.
Apakah Sifilis Bisa Sembuh dengan Obat-obatan Minum?
Pengobatan sifilis tidak selalu berupa obat-obatan minum.
Pada banyak kondisi, terutama berdasarkan pedoman WHO dan CDC, pengobatan ini melalui suntikan menjadi terapi utama.
Alternatif tertentu dapat di gunakan pada pasien non hamil dalam situasi tertentu, tetapi pemilihannya harus di lakukan oleh dokter ahli.
Karena itu, mencari “obat-obatan sifilis paling ampuh” tanpa mengetahui stadium penyakit dapat menyebabkan pengobatan yang tidak sesuai.
Apakah Sekali Suntik Sifilis Langsung Sembuh?
Tergantung tahap dan kondisi infeksi. Sifilis tahap awal tertentu memang dapat di tangani dengan 1 dosis pengobatan.
Namun, sifilis laten lanjut atau dengan durasi yang tidak di ketahui membutuhkan regimen 3 dosis mingguan.
Selain itu, keberhasilan terapi tidak hanya di nilai dari hilangnya luka atau ruam.
Dokter ahli dapat melakukan pemantauan klinis dan pemeriksaan serologi untuk melihat respons terhadap pengobatan.
Mengapa Setelah Suntik Sifilis Masih Perlu Kontrol?
Setelah pengobatan, pasien tetap perlu mengikuti jadwal kontrol yang di berikan dokter ahli.
Pemeriksaan lanjutan dapat membantu mengetahui apakah:
- Gejala sudah membaik.
- Titer pemeriksaan serologi mengalami perubahan yang di harapkan.
- Terjadi infeksi ulang (kambuh).
- Ada kemungkinan kegagalan terapi.
- Pasien membutuhkan evaluasi atau terapi tambahan.
CDC merekomendasikan penggunaan metode pemeriksaan yang sama, seperti RPR atau VDRL, untuk pemeriksaan serologi berurutan karena hasil dari kedua metode tersebut tidak dapat di bandingkan secara langsung.
Apakah Pasangan Seksual Juga Perlu Diperiksa?
Ya. Sifilis dapat di tularkan melalui kontak seksual dengan luka yang terinfeksi.
Karena itu, pasangan seksual dari seseorang yang di diagnosis sifilis perlu mendapatkan evaluasi.
CDC memberikan rekomendasi khusus mengenai pasangan seksual yang memiliki paparan dalam periode tertentu, termasuk pasangan seksual dari penderita sifilis primer, sekunder, atau early latent.
Hal ini penting untuk mencegah infeksi ulang (kambuh) setelah pengobatan.
Bolehkah Berhubungan Seksual Setelah Pengobatan Sifilis?
Sebaiknya ikuti instruksi dokter ahli mengenai kapan aktivitas seksual dapat di lanjutkan.
Selain itu, pasangan seksual perlu di evaluasi dan, jika di perlukan, mendapatkan pengobatan.
Kondom (pengaman atau pelindung) dapat membantu mengurangi risiko penularan, tetapi tidak memberikan perlindungan sempurna karena luka sifilis dapat berada pada area yang tidak tertutup kondom (pengaman atau pelindung).
Hindari Mengobati Sifilis Sendiri
Menggunakan antibiotik tanpa pemeriksaan dapat menimbulkan beberapa masalah.
Misalnya:
- Obat-obatan tidak sesuai dengan stadium penyakit.
- Dosis atau durasi tidak tepat.
- Gejala membaik tetapi infeksi belum tertangani secara optimal.
- Diagnosis sebenarnya bukan sifilis.
- Terjadi infeksi ulang (kambuh) dari pasangan seksual yang belum di periksa.
Karena itu, cara mengobati sifilis yang tepat harus berdasarkan diagnosis dan stadium infeksi, bukan hanya berdasarkan gejala.
Kapan Harus Memeriksakan Diri?
Segera konsultasikan dengan dokter ahli jika mengalami:
- Luka genital yang tidak nyeri.
- Ruam pada tubuh, terutama telapak tangan atau kaki.
- Pembengkakan kelenjar getah bening.
- Kelainan kulit atau mukosa yang tidak jelas penyebabnya.
- Pernah melakukan hubungan seksual dengan pasangan seksual yang di diagnosis sifilis.
- Mendapatkan hasil tes sifilis positif.
- Sedang hamil dan memiliki risiko atau hasil pemeriksaan sifilis positif.
Pemeriksaan juga penting bagi orang yang tidak memiliki gejala tetapi memiliki risiko paparan, karena sifilis dapat berlangsung tanpa gejala yang di sadari.
WHO menekankan bahwa banyak infeksi sifilis tidak menunjukkan gejala atau tidak di kenali.
Kesimpulan
Cara mengobati sifilis yang tepat dan efektif adalah melalui pemeriksaan medis, penentuan stadium infeksi, kemudian pemberian antibiotik sesuai pedoman.
Pengobatan merupakan terapi utama untuk banyak bentuk sifilis, sementara regimen dan jumlah dosis dapat berbeda berdasarkan tahap penyakit. Jangan menunggu gejala semakin parah atau mencoba obat-obatan sendiri. Pemeriksaan lebih awal membantu menentukan terapi yang sesuai sekaligus mengurangi risiko komplikasi dan penularan kepada pasangan seksual.
Jika Anda mengalami gejala yang mengarah pada sifilis atau memiliki hasil tes sifilis positif, Klinik Apollo Jakarta dapat menjadi pilihan untuk konsultasi, pemeriksaan, dan penanganan sesuai kondisi pasien.
Dengan berkonsultasi lebih awal, Anda dapat memperoleh evaluasi medis, pilihan pengobatan yang sesuai, pemantauan setelah terapi, serta layanan yang mengutamakan privasi pasien. Segera konsultasikan kondisi Anda ke Klinik Apollo Jakarta untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan sifilis yang tepat.
Ditinjau secara medis oleh Tim Medis Klinik Apollo Jakarta
- Apakah Sifilis Bisa Disembuhkan?
- Bagaimana Cara Mengobati Sifilis?
- Bagaimana Jika Alergi?
- Cara Mengobati Sifilis pada Ibu Hamil
- Apakah Sifilis Bisa Sembuh dengan Obat-obatan Minum?
- Apakah Sekali Suntik Sifilis Langsung Sembuh?
- Mengapa Setelah Suntik Sifilis Masih Perlu Kontrol?
- Apakah Pasangan Seksual Juga Perlu Diperiksa?
- Bolehkah Berhubungan Seksual Setelah Pengobatan Sifilis?
- Hindari Mengobati Sifilis Sendiri
- Kapan Harus Memeriksakan Diri?
- Kesimpulan
JAM OPERASIONAL
| Senin – Minggu | 09.00 – 19.00 |


