Klinik Apollo – Banyak orang bertanya, apakah sifilis bisa jadi HIV? Pertanyaan ini sering muncul karena keduanya sama-sama termasuk infeksi menular seksual (IMS) dan memiliki beberapa faktor risiko yang serupa.

Namun, penting di pahami bahwa sifilis tidak berubah menjadi HIV. Meski begitu, seseorang yang menderita sifilis memiliki risiko lebih tinggi tertular atau menularkan HIV apabila terpapar virus tersebut.

Memahami hubungan antara keduanya sangat penting agar Anda dapat melakukan pencegahan, pemeriksaan, dan pengobatan sedini mungkin.

Dengan langkah yang tepat, risiko komplikasi maupun penularan kepada pasangan seksual dapat di minimalkan.

Apa Sifilis Bisa Menjadi HIV?

Jawabannya adalah tidak. Sifilis di sebabkan oleh bakteri Treponema pallidum, sedangkan HIV (Human Immunodeficiency Virus) di sebabkan oleh virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh.

Karena penyebabnya berbeda, sifilis tidak dapat berubah menjadi HIV.

Namun, seseorang yang mengalami sifilis memiliki kemungkinan lebih besar terinfeksi HIV jika melakukan hubungan seksual tanpa pengaman (kondom atau pelindung) dengan pasangan seksual yang mengidap HIV.

Hal ini terjadi karena luka akibat sifilis memudahkan virus HIV masuk ke dalam tubuh.

Mengapa Penderita Sifilis Lebih Berisiko Terkena HIV?

Hubungan antara keduanya telah di buktikan melalui berbagai penelitian medis. Luka terbuka (chancre) yang muncul pada sifilis primer dapat menjadi pintu masuk virus HIV.

Selain itu, proses peradangan akibat sifilis juga meningkatkan jumlah sel imun yang menjadi target infeksi HIV.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), keberadaan infeksi menular seksual (IMS) seperti sifilis dapat meningkatkan risiko tertular HIV beberapa kali lipat di bandingkan orang yang tidak mengalami IMS (infeksi menular seksual).

Dengan kata lain, sifilis bukan penyebab HIV, tetapi dapat meningkatkan peluang penularan HIV apabila terdapat paparan virus tersebut.

Persamaannya

Walaupun berbeda penyakit, keduanya memiliki beberapa kesamaan, antara lain:

  • Sama-sama dapat di tularkan melalui hubungan seksual tanpa pengaman (kondom atau pelindung).
  • Dapat menular dari ibu hamil kepada bayi.
  • Memerlukan diagnosis melalui pemeriksaan medis.
  • Pada tahap awal, gejalanya dapat tidak di sadari.
  • Penanganan sejak dini dapat mengurangi risiko komplikasi dan penularan.

Karena memiliki faktor risiko yang serupa, dokter ahli sering menyarankan pasien dengan sifilis untuk menjalani tes HIV, begitu pula sebaliknya.

Gejala Sifilis yang Perlu Diwaspadai

Sifilis berkembang dalam beberapa stadium sehingga gejalanya dapat berbeda pada setiap orang.

Gejala yang sering di temukan meliputi:

  • Luka kecil yang tidak nyeri pada area genital, anus, atau mulut.
  • Ruam pada telapak tangan dan telapak kaki.
  • Pembengkakan kelenjar getah bening.
  • Demam ringan.
  • Nyeri otot.
  • Rambut rontok pada beberapa area.
  • Kelelahan.

Kapan Harus Melakukan Tes HIV?

Pemeriksaan HIV sangat di anjurkan apabila Anda:

  • Di diagnosis menderita sifilis.
  • Pernah melakukan hubungan seksual tanpa kondom (pengaman atau pelindung).
  • Memiliki lebih dari 1 pasangan seksual.
  • Pasangan seksual di diagnosis mengalami HIV atau IMS (infeksi menular seksual).
  • Mengalami gejala yang mengarah pada infeksi menular seksual (IMS).

Semakin cepat di lakukan pemeriksaan, semakin cepat pula dokter ahli dapat menentukan langkah penanganan yang sesuai.

Cara Mencegahnya

Pencegahan merupakan langkah terbaik untuk menurunkan risiko kedua penyakit ini.

Beberapa cara yang dapat di lakukan meliputi:

  • Menggunakan kondom (pengaman atau pelindung) secara konsisten dan benar.
  • Tidak berganti-ganti pasangan seksual.
  • Melakukan pemeriksaan kesehatan seksual secara berkala.
  • Tidak berbagi jarum suntik.
  • Segera memeriksakan diri apabila muncul luka atau ruam pada area genital.
  • Mengikuti seluruh anjuran pengobatan dari dokter ahli apabila telah di diagnosis mengalami IMS (infeksi menular seksual).

Pemeriksaan dan Pengobatan

Dokter ahli akan menentukan pemeriksaan berdasarkan keluhan, riwayat kesehatan, dan faktor risiko pasien.

Pemeriksaan dapat meliputi tes darah untuk sifilis maupun tes HIV apabila di perlukan. Apabila hasil menunjukkan sifilis, pengobatan umumnya menggunakan antibiotik sesuai stadium penyakit.

Sebaliknya, jika terdiagnosis HIV, dokter ahli akan merencanakan terapi antiretroviral (ARV) untuk mengendalikan infeksi dan menjaga sistem kekebalan tubuh.

Hindari membeli atau mengonsumsi obat-obatan tanpa pemeriksaan dokter ahli karena pengobatan yang tidak tepat dapat memperburuk kondisi atau menunda diagnosis.

Kesimpulan

Apa sifilis bisa menjadi HIV? Jawabannya adalah tidak.

Sifilis tidak berubah menjadi HIV karena keduanya di sebabkan oleh mikroorganisme yang berbeda.

Meski demikian, sifilis dapat meningkatkan risiko tertular HIV apabila seseorang terpapar virus tersebut.

Oleh sebab itu, pemeriksaan dini, pengobatan yang tepat, dan penerapan perilaku seksual yang lebih aman sangat penting untuk menjaga kesehatan reproduksi.

Konsultasikan Keluhan Anda di Klinik Apollo Jakarta

Apabila Anda mengalami gejala sifilis, memiliki faktor risiko HIV, atau ingin melakukan pemeriksaan infeksi menular seksual (IMS) secara menyeluruh, Klinik Apollo Jakarta siap membantu.

Anda akan mendapatkan konsultasi dengan dokter ahli berpengalaman, pemeriksaan yang akurat sesuai indikasi medis, penanganan yang di sesuaikan dengan kondisi pasien, serta pelayanan yang mengutamakan kenyamanan dan kerahasiaan.

Jangan menunda pemeriksaan, karena deteksi dan penanganan sejak dini dapat membantu mencegah komplikasi serta mengurangi risiko penularan kepada pasangan seksual.

Ditinjau secara medis oleh Tim Medis Klinik Apollo Jakarta

Bagikan

Senin – Minggu 09.00 – 19.00

VISI & MISI

Mengedepankan sisi profesionalisme dalam bekerja serta mengedepankan kode etik kedokteran dan pengobatan penyakit kelamin untuk kesembuhan pasien secara menyeluruh.

Menjadi klinik spesialis kelamin dengan pelayanan kesehatan terbaik yang mengedepankan profesionalisme, keilmuan serta orientasi pasien sehingga dapat tercapai kesehatan yang berkualitas.

Butuh Bantuan Kami?

Segera konsultasikan penyakit kelamin Anda di Klinik Apollo.