Klinik ApolloLuka sifilis merupakan salah satu tanda paling awal dari infeksi sifilis yang sering kali tidak disadari penderitanya.

Pasalnya, luka ini umumnya tidak menimbulkan rasa sakit sehingga banyak orang menganggapnya sebagai luka biasa dan membiarkannya tanpa pemeriksaan.

Padahal, deteksi dini dan pengobatan yang tepat sangat penting untuk mencegah penyebaran infeksi ke organ lain maupun kepada pasangan seksual.

Oleh karena itu, memahami ciri-ciri luka sifilis, penyebab, hingga cara mengobatinya menjadi langkah awal untuk menjaga kesehatan reproduksi.

Apa Itu Luka Sifilis?

Luka sifilis adalah luka yang muncul akibat infeksi bakteri Treponema pallidum pada tahap primer sifilis.

Dalam dunia medis, luka ini di kenal sebagai chancre.

Biasanya, luka mulai muncul sekitar 10 hingga 90 hari setelah seseorang terpapar bakteri, dengan rata-rata kemunculan sekitar 21 hari.

Luka dapat muncul pada bagian tubuh yang menjadi lokasi masuknya bakteri, seperti:

  • Penis.
  • Vagina.
  • Bibir vagina.
  • Serviks.
  • Anus.
  • Rektum.
  • Bibir.
  • Lidah.
  • Rongga mulut.
  • Tenggorokan (akibat seks oral).

Karena sering tersembunyi di area genital atau mulut, banyak penderita tidak menyadari keberadaan luka tersebut.

Ciri-Ciri Luka Sifilis

Mengenali karakteristik luka sifilis dapat membantu seseorang mendapatkan penanganan lebih cepat.

Beberapa ciri khas luka sifilis antara lain:

  • Berbentuk bulat atau oval.
  • Berwarna kemerahan.
  • Memiliki permukaan yang bersih.
  • Tidak terasa nyeri.
  • Terasa keras ketika di sentuh.
  • Umumnya hanya 1 luka, meskipun beberapa orang dapat mengalami lebih dari 1.
  • Dapat sembuh sendiri dalam waktu 3 hingga 6 minggu meski infeksi masih ada di dalam tubuh.

Selain luka, sebagian penderita juga mengalami pembengkakan kelenjar getah bening di sekitar area yang terinfeksi.

Penyebab Luka Sifilis

Penyebab utama luka sifilis adalah infeksi bakteri Treponema pallidum yang di tularkan melalui kontak langsung dengan luka sifilis saat berhubungan seksual.

Penularan dapat terjadi melalui:

  • Hubungan seksual vaginal.
  • Hubungan seksual anal.
  • Hubungan seksual oral.
  • Kontak langsung dengan luka yang terinfeksi.
  • Penularan dari ibu hamil kepada janin (sifilis kongenital).

Sebaliknya, sifilis tidak menular melalui:

  • Berbagi alat makan.
  • Dudukan toilet.
  • Kolam renang.
  • Berpelukan.
  • Bersalaman.

Faktor Risiko Terkena Luka Sifilis

Risiko infeksi sifilis meningkat apabila seseorang memiliki beberapa faktor berikut:

  • Berganti-ganti pasangan seksual.
  • Tidak menggunakan kondom (pengaman atau pelindung) saat berhubungan seksual.
  • Memiliki pasangan seksual yang terinfeksi sifilis.
  • Pernah mengalami infeksi menular seksual (IMS) lainnya.
  • Pria yang berhubungan seksual dengan pria (MSM) memiliki angka kejadian yang lebih tinggi berdasarkan data epidemiologi.

Karena itu, pemeriksaan rutin IMS (infeksi menular seksual) sangat di anjurkan bagi individu yang memiliki faktor risiko.

Apakah Luka Sifilis Bisa Sembuh Sendiri?

Banyak orang salah mengira bahwa luka sifilis yang menghilang berarti penyakitnya telah sembuh.

Faktanya, luka memang dapat menutup sendiri, tetapi bakteri tetap berkembang di dalam tubuh.

Tanpa pengobatan, infeksi akan berlanjut ke tahap sekunder, laten, hingga tersier yang berisiko menyebabkan:

  • Gangguan saraf.
  • Kerusakan jantung.
  • Gangguan mata.
  • Kelumpuhan.
  • Gangguan otak.

Dengan kata lain, hilangnya luka bukan berarti infeksinya telah hilang.

Cara Mendiagnosis Luka Sifilis

Dokter ahli akan melakukan beberapa langkah pemeriksaan untuk memastikan diagnosis, antara lain:

  • Wawancara mengenai riwayat kesehatan dan aktivitas seksual.
  • Pemeriksaan fisik pada luka.
  • Tes darah sifilis (VDRL, RPR, TPHA, atau TPPA).
  • Pemeriksaan sampel cairan luka apabila di perlukan.

Diagnosis yang tepat membantu menentukan terapi yang paling sesuai.

Cara Mengobati Luka Sifilis

Pengobatan utama sifilis adalah menggunakan antibiotik sesuai rekomendasi dokter ahli.

Terapi paling umum meliputi:

  • Suntikan untuk sebagian besar kasus sifilis primer.
  • Antibiotik alternatif bagi pasien dengan alergi sesuai pertimbangan dokter ahli.

Selain menjalani pengobatan, pasien juga di anjurkan untuk:

  • Tidak melakukan hubungan seksual hingga di nyatakan sembuh.
  • Memberi tahu pasangan seksual agar ikut menjalani pemeriksaan.
  • Melakukan kontrol ulang sesuai jadwal dokter ahli.
  • Menjalani tes ulang untuk memastikan infeksi telah teratasi.

Semakin cepat terapi di berikan, semakin besar peluang sembuh tanpa komplikasi.

Cara Mencegah Luka Sifilis

Pencegahan tetap menjadi langkah terbaik untuk mengurangi risiko infeksi.

Beberapa cara yang dapat di lakukan meliputi:

  • Menggunakan kondom (pengaman atau pelindung) secara konsisten.
  • Menghindari berganti-ganti pasangan seksual.
  • Melakukan skrining IMS (infeksi menular seksual) secara berkala.
  • Tidak melakukan hubungan seksual apabila terdapat luka pada area genital.
  • Mengajak pasangan seksual melakukan pemeriksaan bersama sebelum berhubungan seksual.

Kapan Harus ke Dokter Ahli?

Segera lakukan pemeriksaan apabila Anda mengalami kondisi berikut:

  • Muncul luka pada penis, vagina, anus, atau mulut yang tidak terasa nyeri.
  • Ruam pada telapak tangan atau telapak kaki.
  • Keluar cairan tidak normal (abnormal) dari alat kelamin.
  • Memiliki pasangan seksual yang di diagnosis sifilis.
  • Pernah melakukan hubungan seksual berisiko.

Semakin dini sifilis di diagnosis, semakin mudah pengobatannya dan semakin kecil risiko komplikasi jangka panjang.

Kesimpulan

Luka sifilis merupakan gejala awal infeksi sifilis yang sering kali tidak menimbulkan rasa nyeri. Meskipun dapat sembuh sendiri secara tampak, infeksi tetap berlangsung di dalam tubuh dan berpotensi menyebabkan komplikasi serius apabila tidak segera di tangani.

Oleh karena itu, jangan abaikan munculnya luka pada area genital, anus, maupun mulut. Pemeriksaan dini, diagnosis yang akurat, serta pengobatan yang tepat merupakan langkah terbaik untuk mencegah penyebaran infeksi dan menjaga kesehatan reproduksi.

Jika Anda mengalami gejala yang mengarah pada sifilis atau memiliki riwayat hubungan seksual berisiko, segera konsultasikan kondisi Anda di Klinik Apollo Jakarta.

Tim dokter ahli berpengalaman menyediakan pemeriksaan IMS (infeksi menular seksual) yang akurat, menjaga kerahasiaan pasien, memberikan penanganan sesuai pedoman medis terkini, serta menyusun terapi yang di sesuaikan dengan kondisi Anda. Dengan penanganan yang cepat dan tepat, peluang kesembuhan lebih tinggi serta risiko komplikasi dan penularan kepada pasangan seksual dapat di minimalkan.

FAQ Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah luka sifilis terasa sakit?

Tidak.

Luka sifilis umumnya tidak menimbulkan rasa nyeri sehingga sering tidak di sadari.

Berapa lama luka sifilis muncul setelah tertular?

Biasanya muncul sekitar 3 minggu setelah paparan, tetapi dapat berkisar antara 10 hingga 90 hari.

Apakah luka sifilis bisa hilang tanpa obat?

Ya, lukanya dapat menghilang.

Namun, bakterinya tetap berada di dalam tubuh sehingga infeksi terus berkembang tanpa pengobatan.

Apakah sifilis bisa disembuhkan?

Ya.

Sifilis dapat di sembuhkan apabila di diagnosis sejak dini dan di obati dengan antibiotik yang sesuai.

Ditinjau secara medis oleh Tim Medis Klinik Apollo Jakarta

Bagikan

Senin – Minggu 09.00 – 19.00

VISI & MISI

Mengedepankan sisi profesionalisme dalam bekerja serta mengedepankan kode etik kedokteran dan pengobatan penyakit kelamin untuk kesembuhan pasien secara menyeluruh.

Menjadi klinik spesialis kelamin dengan pelayanan kesehatan terbaik yang mengedepankan profesionalisme, keilmuan serta orientasi pasien sehingga dapat tercapai kesehatan yang berkualitas.

Butuh Bantuan Kami?

Segera konsultasikan penyakit kelamin Anda di Klinik Apollo.