Klinik Apollo – Keputihan merupakan kondisi yang normal dialami wanita. Namun, perubahan warna, jumlah, tekstur, atau bau keputihan dapat menjadi tanda adanya infeksi. Salah satunya adalah trikomoniasis, yaitu infeksi menular seksual (IMS) yang di sebabkan oleh parasit Trichomonas vaginalis.
Pada wanita, trikomoniasis cukup sering menyebabkan keputihan abnormal (tidak normal), tetapi sebagian orang tidak mengalami gejala sama sekali.
WHO mencatat sekitar 156 juta kasus baru infeksi T. vaginalis pada kelompok usia 15 hingga 49 tahun di seluruh dunia pada 2020, sehingga infeksi ini termasuk IMS (infeksi menular seksual) yang perlu mendapat perhatian.
Lalu, seperti apa ciri keputihan trikomoniasis, bagaimana cara memastikan diagnosisnya, dan apa pengobatan yang tepat? Berikut penjelasannya.
- Apa Itu Keputihan Trikomoniasis?
- Apa Penyebab Trikomoniasis?
- Ciri-Ciri Keputihan Trikomoniasis
- Apakah Keputihan Trikomoniasis Selalu Berwarna Hijau?
- Apakah Trikomoniasis Bisa Tanpa Gejala?
- Bagaimana Cara Mendiagnosis Trikomoniasis?
- Pengobatan Keputihan Trikomoniasis
- Apakah Pasangan Seksual Juga Harus Diobati?
- Apakah Trikomoniasis Bisa Kambuh?
- Apa Risiko Jika Trikomoniasis Tidak Diobati?
- Bagaimana Cara Mencegah Trikomoniasis?
- Bedakan Keputihan Trikomoniasis dengan Keputihan Normal
- Kapan Harus Periksa ke Dokter Ahli?
- Kesimpulan
Apa Itu Keputihan Trikomoniasis?
Keputihan trikomoniasis adalah keluarnya cairan dari vagina akibat infeksi parasit Trichomonas vaginalis.
Infeksi ini termasuk IMS (infeksi menular seksual) dan dapat menyerang wanita maupun pria.
Pada wanita, keluhan yang paling sering muncul adalah keputihan yang tidak normal (abnormal).
Namun, tidak semua wanita dengan trikomoniasis mengalami gejala.
WHO menyebutkan lebih dari 50% wanita yang terinfeksi T. vaginalis mengalami keputihan, sedangkan sebagian lainnya dapat tidak menunjukkan gejala.
Karena itu, keputihan yang tampak berbeda dari biasanya sebaiknya tidak langsung di anggap sebagai infeksi jamur atau bakteri.
Pemeriksaan di perlukan untuk mengetahui penyebabnya.
Apa Penyebab Trikomoniasis?
Penyebabnya adalah parasit Trichomonas vaginalis.
Penularan terutama terjadi melalui aktivitas seksual dengan pasangan seksual yang terinfeksi.
Seseorang juga dapat menularkan trikomoniasis meskipun tidak memiliki keluhan.
Kondisi ini membuat infeksi dapat menyebar tanpa di sadari.
Penggunaan kondom (pengaman atau pelindung) secara benar dan konsisten dapat membantu mengurangi risiko penularan trikomoniasis.
Ciri-Ciri Keputihan Trikomoniasis
Tidak semua keputihan berwarna kuning atau hijau berarti trikomoniasis.
Namun, beberapa perubahan berikut perlu di perhatikan:
1. Keputihan berwarna kuning atau kehijauan
Keputihan dapat berubah menjadi kuning, hijau kekuningan, atau tampak lebih keruh di bandingkan keputihan normal.
Pada sebagian wanita, cairan juga dapat terlihat lebih encer atau berbusa.
NHS menyebutkan keputihan kuning-hijau yang dapat berbusa merupakan salah satu gambaran yang dapat di temukan pada trikomoniasis.
2. Bau vagina berubah
Keputihan dapat di sertai bau yang tidak biasa atau amis.
Meski demikian, bau saja tidak cukup untuk memastikan seseorang mengalami trikomoniasis karena kondisi lain, termasuk bacterial vaginosis (BV), juga dapat menyebabkan perubahan bau.
3. Vagina terasa gatal dan iritasi
Infeksi dapat menyebabkan gatal, kemerahan, rasa terbakar, nyeri, atau pembengkakan di sekitar vagina dan vulva.
4. Perih saat kencing
Sebagian wanita mengalami sensasi terbakar atau nyeri saat kencing.
Keluhan ini dapat terjadi bersamaan dengan iritasi pada area genital.
5. Nyeri saat berhubungan seksual
Trikomoniasis dapat menyebabkan rasa tidak nyaman atau nyeri saat berhubungan seksual akibat peradangan pada area genital.
6. Nyeri di bagian bawah perut
Pada sebagian kasus, wanita dapat merasakan nyeri pada bagian bawah perut.
Jika keluhan terasa berat atau di sertai demam maupun perdarahan tidak normal (abnormal), pemeriksaan medis sebaiknya segera di lakukan.
Apakah Keputihan Trikomoniasis Selalu Berwarna Hijau?
Tidak selalu.
Warna dan tekstur cairan vagina dapat berbeda pada setiap orang.
Selain itu, keputihan abnormal (tidak normal) dapat di sebabkan oleh berbagai kondisi, seperti bacterial vaginosis (BV), kandidiasis, gonore (kencing nanah), atau klamidia.
Karena itu, warna keputihan saja tidak cukup untuk menentukan diagnosis.
Pemeriksaan medis dan tes laboratorium dapat membantu menemukan penyebab yang tepat.
Apakah Trikomoniasis Bisa Tanpa Gejala?
Bisa.
Sebagian orang yang terinfeksi T. vaginalis tidak mengalami gejala yang jelas.
Kondisi tersebut membuat seseorang dapat tetap menularkan infeksi kepada pasangan seksual tanpa menyadarinya.
WHO juga menyatakan bahwa infeksi pada wanita dapat bersifat simptomatik maupun asimptomatik.
Jadi, tidak adanya keputihan atau keluhan genital tidak selalu berarti seseorang bebas dari trikomoniasis.
Bagaimana Cara Mendiagnosis Trikomoniasis?
Dokter ahli dapat menilai keluhan, riwayat kesehatan dan seksual, kemudian melakukan pemeriksaan area genital.
Untuk memastikan diagnosis, dokter ahli dapat mengambil sampel cairan vagina atau endoserviks.
Pemeriksaan dapat menggunakan mikroskop atau metode molekuler, termasuk NAAT (nucleic acid amplification test) yang memiliki sensitivitas lebih tinggi.
Jika trikomoniasis di temukan, pemeriksaan IMS (infeksi menular seksual) lain seperti HIV dan sifilis (raja singa) juga dapat di rekomendasikan.
CDC juga merekomendasikan pemeriksaan IMS (infeksi menular seksual) lain, termasuk gonore (kencing nanah) dan klamidia, pada orang yang di diagnosis trikomoniasis.
Karena itu, jangan menentukan obat-obatan hanya berdasarkan bentuk atau warna keputihan.
Pengobatan Keputihan Trikomoniasis
Kabar baiknya, trikomoniasis dapat di obati dan di sembuhkan menggunakan obat-obatan yang sesuai.
Jangan membeli atau mengonsumsi antibiotik sendiri hanya karena mengalami keputihan, karena penyebab keputihan bisa berbeda dan terapi yang di perlukan juga berbeda.
Apakah Pasangan Seksual Juga Harus Diobati?
Ya, pasangan seksual perlu mendapatkan penanganan jika terdiagnosis atau di nilai berisiko terinfeksi.
Hal ini penting karena seseorang dapat kembali tertular (kambuh) setelah pengobatan jika melakukan hubungan seksual dengan pasangan seksual yang belum mendapatkan terapi.
CDC menganjurkan agar orang yang menjalani pengobatan menghindari hubungan seksual sampai pengobatan selesai dan gejala telah menghilang, serta pasangan seksual mendapatkan penanganan.
Apakah Trikomoniasis Bisa Kambuh?
Bisa.
Namun, munculnya kembali infeksi tidak selalu berarti obat tidak bekerja.
Salah satu penyebab yang sering adalah reinfeksi dari pasangan seksual yang belum di obati.
Selain itu, sebagian kecil infeksi dapat mengalami resistensi terhadap obat-obatan.
CDC menyebutkan resistensi di temukan pada sekitar 4 hingga 10% kasus trikomoniasis vagina.
Karena risiko infeksi kembali cukup tinggi, CDC merekomendasikan wanita yang aktif secara seksual untuk menjalani tes ulang sekitar 3 bulan setelah pengobatan, terlepas dari apakah mereka merasa pasangan seksualnya sudah mendapatkan pengobatan.
Apa Risiko Jika Trikomoniasis Tidak Diobati?
Meskipun dapat di sembuhkan, trikomoniasis yang tidak di tangani dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan tertentu.
WHO menyebutkan bahwa infeksi T. vaginalis berkaitan dengan peningkatan risiko tertular HIV dan pada wanita dapat berhubungan dengan beberapa masalah kesehatan reproduksi.
Pada kehamilan, infeksi yang tidak di tangani juga dikaitkan dengan hasil kehamilan yang kurang baik, seperti kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah.
Oleh karena itu, keputihan yang berubah secara mencolok sebaiknya tidak di biarkan terlalu lama.
Bagaimana Cara Mencegah Trikomoniasis?
Beberapa langkah dapat membantu mengurangi risiko infeksi dan penularan kembali (kambuh), yaitu:
- Menggunakan kondom (pengaman atau pelindung) secara benar dan konsisten.
- Menghindari hubungan seksual sampai pengobatan selesai.
- Memastikan pasangan seksual mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan jika di perlukan.
- Tidak berbagi sex toys tanpa pembersihan yang tepat atau penggunaan kondom (pengaman atau pelindung) baru.
- Melakukan pemeriksaan jika muncul keputihan abnormal (tidak normal) atau keluhan genital.
- Mengikuti tes ulang sesuai anjuran dokter ahli.
Penggunaan kondom (pengaman atau pelindung) secara konsisten dan benar merupakan salah satu cara yang dapat membantu mencegah penularan trikomoniasis.
Bedakan Keputihan Trikomoniasis dengan Keputihan Normal
Keputihan normal biasanya tidak di sertai bau menyengat, gatal, nyeri, atau rasa terbakar.
Jumlah dan konsistensinya juga dapat berubah mengikuti siklus menstruasi.
Sebaliknya, keputihan yang di sertai perubahan warna, bau tidak biasa, gatal, nyeri saat kencing, atau nyeri saat berhubungan seksual perlu di periksa.
Namun, gejala tersebut tidak secara otomatis berarti trikomoniasis.
Gonore (kencing nanah), klamidia, BV, kandidiasis, dan kondisi lain juga dapat menyebabkan keluhan yang serupa.
Misalnya, gonore pada wanita juga dapat menyebabkan keputihan abnormal (tidak normal), sehingga pemeriksaan di perlukan untuk membedakan penyebabnya.
Kapan Harus Periksa ke Dokter Ahli?
Segera konsultasikan ke dokter ahli jika Anda mengalami:
- Keputihan kuning atau kehijauan.
- Keputihan berbusa atau berbau tidak biasa.
- Gatal atau rasa terbakar pada vagina.
- Nyeri saat kencing.
- Nyeri saat berhubungan seksual.
- Nyeri perut bagian bawah.
- Keluhan setelah melakukan hubungan seksual berisiko.
- Keputihan yang terus berulang (kambuh) meskipun sudah menggunakan obat-obatan.
Terutama jika Anda sedang hamil atau merencanakan kehamilan, jangan menunda pemeriksaan ketika mengalami keputihan abnormal (tidak normal).
Kesimpulan
Keputihan trikomoniasis dapat di tandai dengan perubahan warna dan karakter cairan vagina, termasuk keputihan kuning atau kehijauan yang dapat di sertai bau tidak biasa, gatal, rasa terbakar, nyeri saat kencing, dan nyeri saat berhubungan seksual.
Namun, gejala tersebut juga dapat muncul pada infeksi lain sehingga pemeriksaan tetap di perlukan. Trikomoniasis dapat di sembuhkan dengan pengobatan yang tepat, tetapi pasangan seksual juga perlu di tangani untuk mencegah reinfeksi. Pemeriksaan ulang juga penting karena infeksi dapat kembali setelah pengobatan.
Jika Anda mengalami keputihan yang berubah warna, berbau, gatal, atau di sertai nyeri, jangan menebak penyebabnya sendiri. Konsultasikan dan lakukan pemeriksaan di Klinik Apollo untuk membantu mengetahui penyebab keluhan, mendapatkan diagnosis yang lebih tepat, serta menentukan pengobatan sesuai kondisi Anda.
Dengan pemeriksaan dan penanganan yang tepat, Anda dapat memperoleh perawatan medis yang lebih terarah sekaligus menjaga kesehatan reproduksi dan privasi selama konsultasi.
Ditinjau secara medis oleh Tim Medis Klinik Apollo Jakarta
- Apa Itu Keputihan Trikomoniasis?
- Apa Penyebab Trikomoniasis?
- Ciri-Ciri Keputihan Trikomoniasis
- Apakah Keputihan Trikomoniasis Selalu Berwarna Hijau?
- Apakah Trikomoniasis Bisa Tanpa Gejala?
- Bagaimana Cara Mendiagnosis Trikomoniasis?
- Pengobatan Keputihan Trikomoniasis
- Apakah Pasangan Seksual Juga Harus Diobati?
- Apakah Trikomoniasis Bisa Kambuh?
- Apa Risiko Jika Trikomoniasis Tidak Diobati?
- Bagaimana Cara Mencegah Trikomoniasis?
- Bedakan Keputihan Trikomoniasis dengan Keputihan Normal
- Kapan Harus Periksa ke Dokter Ahli?
- Kesimpulan
JAM OPERASIONAL
| Senin – Minggu | 09.00 – 19.00 |


