Klinik ApolloKeputihan pada remaja merupakan keluhan yang cukup sering muncul, terutama setelah memasuki masa pubertas.

Kondisi ini sering membuat remaja khawatir karena perubahan warna, jumlah, atau tekstur cairan vagina dapat terlihat berbeda dari biasanya.

Namun, tidak semua keputihan berarti penyakit. Keputihan bening atau warna putih dengan jumlah sedikit, tanpa bau menyengat, gatal, maupun nyeri umumnya merupakan bagian normal dari perubahan hormon saat pubertas.

Di sisi lain, perubahan keputihan yang di sertai bau tidak sedap, perubahan warna, gatal, nyeri, atau rasa terbakar saat kencing perlu di perhatikan karena dapat berkaitan dengan infeksi atau iritasi.

Apa Itu Keputihan pada Remaja?

Keputihan adalah keluarnya cairan atau lendir dari vagina.

Pada masa pubertas, peningkatan hormon estrogen membuat produksi cairan vagina meningkat.

Keputihan normal bahkan dapat mulai muncul sekitar 6 hingga 12 bulan sebelum menstruasi pertama.

Cairannya biasanya bening atau warna putih, tipis, dan jumlahnya relatif sedikit.

Jadi, jika remaja mengalami keputihan yang tidak di sertai keluhan lain, kondisi tersebut belum tentu menunjukkan adanya penyakit.

Ciri Keputihan Normal pada Remaja

Keputihan pada remaja cenderung normal apabila memiliki karakteristik seperti:

  • Berwarna bening atau putih.
  • Teksturnya tipis atau sedikit licin.
  • Jumlahnya tidak berlebihan.
  • Tidak menimbulkan bau menyengat.
  • Tidak menyebabkan gatal pada vagina atau vulva.
  • Tidak menyebabkan rasa terbakar saat kencing.
  • Tidak di sertai nyeri panggul.

Perubahan jumlah cairan juga dapat terjadi karena perubahan hormon selama siklus menstruasi.

Dengan demikian, keputihan bening pada remaja tanpa bau dan tanpa gatal umumnya tidak perlu di khawatirkan.

Ciri Keputihan yang Tidak Normal

Sebaliknya, remaja sebaiknya lebih waspada apabila keputihan mengalami perubahan seperti:

  • Berwarna kuning atau hijau.
  • Berbau amis atau sangat menyengat.
  • Jumlahnya jauh lebih banyak dari biasanya.
  • Bertekstur sangat kental atau menggumpal.
  • Di sertai rasa gatal atau perih.
  • Menimbulkan kemerahan atau iritasi.
  • Menyebabkan nyeri saat kencing.
  • Di sertai nyeri perut bagian bawah atau panggul.
  • Di sertai perdarahan yang tidak sesuai dengan menstruasi.

Keputihan berwarna kuning atau hijau, bau tidak sedap, serta keluhan gatal atau nyeri merupakan tanda yang sebaiknya di periksakan.

Apa Penyebab Keputihan pada Remaja?

Penyebab keputihan pada remaja cukup beragam.

Tidak semuanya berkaitan dengan infeksi menular seksual (IMS).

1. Perubahan Hormon Pubertas

Perubahan hormon merupakan salah satu penyebab paling umum keputihan normal.

Ketika memasuki pubertas, kadar hormone estrogen meningkat sehingga vagina mulai menghasilkan lebih banyak cairan.

Cairan tersebut membantu menjaga lingkungan vagina tetap sehat.

2. Infeksi Jamur

Infeksi jamur, terutama Candida, dapat menyebabkan keputihan berwarna putih dan lebih kental.

Kondisi ini biasanya di sertai gatal atau iritasi pada area genital.

CDC memasukkan kandidiasis vulvovaginal sebagai salah satu penyebab keluhan keputihan.

Infeksi ini umumnya bukan infeksi menular seksual (IMS), meskipun dapat di temukan pada orang yang sedang menjalani evaluasi IMS (infeksi menular seksual).

3. Bacterial Vaginosis (BV)

Bacterial vaginosis atau BV terjadi akibat perubahan keseimbangan bakteri normal di vagina.

Keluhannya dapat berupa keputihan berwarna putih atau abu-abu dan bau amis.

Namun, sebagian orang dengan BV tidak mengalami gejala apa pun.

CDC menyebut BV sebagai salah satu penyebab paling umum keputihan secara global.

4. Trikomoniasis

Trikomoniasis merupakan infeksi menular seksual (IMS) yang di sebabkan oleh parasit Trichomonas vaginalis.

Pada remaja yang aktif secara seksual, kondisi ini dapat menyebabkan keputihan berwarna kuning-hijau, berbau tidak sedap, serta rasa gatal atau perih.

Karena penyebab keputihan tidak selalu dapat di tentukan hanya berdasarkan warna atau teksturnya, pemeriksaan medis dapat membantu memastikan penyebabnya.

5. Gonore (Kencing Nanah) dan Klamidia

Gonore (kencing nanah) dan klamidia juga dapat menyebabkan keputihan atau perubahan cairan vagina, terutama apabila terjadi infeksi pada leher rahim.

Risiko ini perlu di perhatikan terutama pada remaja yang sudah aktif secara seksual.

Pemeriksaan IMS (infeksi menular seksual) dapat membantu mengetahui penyebab keluhan secara lebih akurat.

6. Iritasi pada Area Genital

Keputihan atau keluhan pada area genital juga dapat berkaitan dengan iritasi akibat produk tertentu.

Misalnya, penggunaan sabun berpewangi, cairan pembersih vagina, atau produk yang mengiritasi kulit sensitif di sekitar vulva.

Karena itu, hindari penggunaan produk pembersih vagina secara berlebihan dan jangan melakukan douching tanpa anjuran tenaga medis.

Apakah Keputihan pada Remaja Berbahaya?

Keputihan normal tidak berbahaya.

Justru, keluarnya cairan bening atau warna putih merupakan bagian dari fungsi normal vagina setelah memasuki pubertas.

Namun, keputihan yang berubah dan di sertai gejala lain dapat menjadi tanda infeksi.

Jika penyebabnya tidak di ketahui, pemeriksaan di perlukan agar penanganannya tepat.

CDC menjelaskan bahwa penyebab keluhan vagina dapat di evaluasi menggunakan pemeriksaan seperti pengukuran pH, pemeriksaan mikroskopis, KOH, atau pemeriksaan laboratorium tertentu sesuai kebutuhan.

Jadi, jangan menentukan penyebab hanya berdasarkan warna keputihan.

Bagaimana Cara Mengatasi Keputihan pada Remaja?

Cara mengatasi keputihan bergantung pada penyebabnya.

Karena itu, jangan langsung menggunakan obat-obatan antijamur atau antibiotik tanpa mengetahui penyebabnya.

Beberapa kebiasaan yang dapat membantu menjaga kesehatan area genital antara lain:

  • Bersihkan area genital dengan lembut menggunakan air.
  • Hindari sabun atau produk berpewangi yang dapat menyebabkan iritasi.
  • Jangan melakukan douching atau spray cairan ke dalam vagina.
  • Gunakan celana dalam yang bersih dan nyaman.
  • Ganti pakaian dalam apabila sudah lembap.
  • Setelah kencing, bersihkan dari arah depan ke arah belakang.
  • Hindari penggunaan obat-obatan vagina tanpa rekomendasi dokter ahli.
  • Jika sudah aktif secara seksual, lakukan hubungan seksual yang lebih aman dan pertimbangkan pemeriksaan IMS (infeksi menular seksual) bila terdapat faktor risiko.

Pada keputihan akibat infeksi, dokter ahli dapat menentukan terapi berdasarkan hasil pemeriksaan.

Penanganan bisa berbeda antara infeksi jamur, BV, trikomoniasis, gonore (kencing nanah), klamidia, maupun penyebab lainnya.

Kapan Remaja Harus Periksa ke Dokter Ahli?

Tidak semua keputihan membutuhkan pemeriksaan segera.

Namun, sebaiknya konsultasikan kepada dokter ahli jika keputihan:

  • Berwarna kuning atau hijau.
  • Mengeluarkan bau yang menyengat.
  • Berjumlah sangat banyak.
  • Di sertai gatal atau rasa terbakar.
  • Menimbulkan nyeri saat kencing.
  • Di sertai nyeri perut bagian bawah atau panggul.
  • Di sertai perdarahan di luar menstruasi.
  • Tidak membaik atau terus berulang (kambuh).

Keputihan yang di sertai demam atau nyeri panggul memerlukan perhatian medis lebih cepat karena dapat menunjukkan infeksi yang membutuhkan penanganan.

Bagaimana Dokter Ahli Menentukan Penyebab Keputihan?

Dokter ahli akan menanyakan keluhan, perubahan cairan vagina, siklus menstruasi, serta gejala lain yang menyertai.

Jika di perlukan, dokter ahli dapat melakukan pemeriksaan area genital dan mengambil sampel cairan vagina untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Pemeriksaan pH, mikroskopis, KOH, atau pemeriksaan laboratorium lainnya dapat membantu membedakan beberapa penyebab keputihan.

Pendekatan tersebut penting karena gejala yang terlihat serupa belum tentu memiliki penyebab yang sama.

Kesimpulan

Keputihan pada remaja bisa normal, terutama ketika cairannya bening atau putih, jumlahnya sedikit, dan tidak di sertai bau, gatal, maupun nyeri. Kondisi tersebut sering berkaitan dengan perubahan hormon selama pubertas.

Sebaliknya, keputihan yang berubah warna, berbau menyengat, jumlahnya berlebihan, atau di sertai gatal, nyeri, rasa terbakar saat kencing, dan nyeri panggul perlu di periksa. Penyebabnya dapat berupa infeksi jamur, bacterial vaginosis (BV), trikomoniasis, IMS (infeksi menular seksual) tertentu, maupun iritasi.

Jika Anda atau orang tua menemukan keputihan pada remaja yang tidak biasa atau terus berulang (kambuh), jangan menebak penyebabnya sendiri.

Konsultasikan dengan dokter ahli di Klinik Apollo untuk mendapatkan pemeriksaan yang sesuai, membantu mengetahui penyebab keluhan, serta memperoleh penanganan yang tepat dan edukasi mengenai cara menjaga kesehatan organ reproduksi.

Ditinjau secara medis oleh Tim Medis Klinik Apollo Jakarta

Bagikan

Senin – Minggu 09.00 – 19.00

VISI & MISI

Mengedepankan sisi profesionalisme dalam bekerja serta mengedepankan kode etik kedokteran dan pengobatan penyakit kelamin untuk kesembuhan pasien secara menyeluruh.

Menjadi klinik spesialis kelamin dengan pelayanan kesehatan terbaik yang mengedepankan profesionalisme, keilmuan serta orientasi pasien sehingga dapat tercapai kesehatan yang berkualitas.

Butuh Bantuan Kami?

Segera konsultasikan penyakit kelamin Anda di Klinik Apollo.