Klinik Apollo – Sifilis merupakan salah satu infeksi menular seksual (IMS) yang berkembang secara bertahap. Pada sebagian pasien, gejala awal dapat menghilang tanpa pengobatan sehingga banyak yang mengira infeksinya telah sembuh.

Padahal, bakteri penyebab sifilis masih tetap berada di dalam tubuh dan penyakit dapat memasuki fase yang di kenal sebagai sifilis laten.

Dalam praktik klinis, tidak sedikit pasien baru mengetahui dirinya mengalami sifilis laten setelah menjalani pemeriksaan laboratorium, misalnya saat pemeriksaan kesehatan rutin, skrining kehamilan, atau evaluasi sebelum menikah.

Karena fase ini umumnya tidak menimbulkan keluhan, diagnosis sering terlambat apabila seseorang tidak melakukan pemeriksaan. Melalui artikel ini, Anda akan memahami apa itu sifilis laten, penyebabnya, apakah kondisi ini menular, bagaimana cara mendiagnosisnya, hingga pilihan pengobatan yang direkomendasikan berdasarkan pedoman medis terbaru.

Apa Itu Sifilis Laten?

Sifilis laten adalah fase infeksi sifilis ketika tidak ada tanda atau gejala yang terlihat, tetapi hasil pemeriksaan darah masih menunjukkan adanya infeksi bakteri Treponema pallidum.

Fase ini terjadi setelah sifilis primer atau sifilis sekunder apabila penderita tidak mendapatkan pengobatan yang memadai.

Walaupun gejala telah menghilang, infeksi belum benar-benar sembuh.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), sifilis laten di bagi menjadi 2 kategori:

1. Sifilis Laten Dini (Early Latent Syphilis)

Fase ini terjadi dalam waktu kurang dari 1 tahun sejak infeksi terjadi.

Pada tahap ini, penularan masih dapat terjadi dalam kondisi tertentu, terutama jika pasien kembali mengalami kekambuhan luka.

2. Sifilis Laten Lanjut (Late Latent Syphilis)

Terjadi setelah lebih dari 1 tahun atau ketika waktu infeksi tidak di ketahui secara pasti.

Pada fase ini, risiko penularan melalui hubungan seksual jauh lebih rendah di bandingkan fase sebelumnya, tetapi infeksi tetap dapat berkembang menjadi komplikasi serius apabila tidak di obati.

Apa Penyebab Sifilis Laten?

Sifilis laten di sebabkan oleh bakteri Treponema pallidum yang tetap bertahan di dalam tubuh setelah gejala awal menghilang.

Penularan sifilis umumnya terjadi melalui:

  • Hubungan seksual vaginal tanpa kondom (pengaman atau pelindung) dengan penderita.
  • Hubungan seksual anal.
  • Hubungan seksual oral.
  • Kontak langsung dengan luka sifilis pada kulit atau selaput lendir.
  • Penularan dari ibu hamil kepada janin (sifilis kongenital).

Perlu di pahami bahwa sifilis tidak menular melalui penggunaan toilet bersama, berbagi alat makan, berpelukan, atau berjabat tangan.

Apakah Sifilis Laten Memiliki Gejala?

Salah satu ciri utama sifilis laten adalah tidak adanya gejala klinis.

Meskipun demikian, penderita mungkin memiliki riwayat:

  • Luka tidak nyeri pada alat kelamin, anus, atau mulut yang pernah sembuh sendiri.
  • Ruam pada telapak tangan atau telapak kaki.
  • Pembengkakan kelenjar getah bening.
  • Demam ringan.
  • Rambut rontok tidak merata.

Setelah gejala tersebut menghilang, banyak orang mengira dirinya telah sembuh sehingga tidak mencari pengobatan.

Mengapa Sifilis Laten Berbahaya?

Tidak adanya gejala bukan berarti infeksi telah hilang.

Sebaliknya, bakteri dapat tetap berada di dalam tubuh selama bertahun-tahun.

Apabila tidak segera di obati, sifilis laten berisiko berkembang menjadi sifilis tersier yang dapat menyebabkan:

1. Gangguan Saraf (Neurosifilis)

Infeksi dapat menyerang otak dan sumsum tulang belakang sehingga menimbulkan:

  • Gangguan keseimbangan.
  • Penurunan daya ingat.
  • Gangguan penglihatan.
  • Stroke.
  • Kejang.

2. Gangguan Jantung dan Pembuluh Darah

Pada beberapa pasien, bakteri dapat merusak pembuluh darah besar sehingga meningkatkan risiko aneurisma aorta.

3. Gangguan Organ Lain

Infeksi juga dapat menyerang:

  • Mata (okular sifilis).
  • Telinga (otosifilis).
  • Hati.
  • Tulang.
  • Kulit.

Siapa yang Berisiko Mengalami Sifilis Laten?

Risiko sifilis laten lebih tinggi pada individu yang:

  • Memiliki lebih dari 1 pasangan seksual.
  • Tidak menggunakan kondom (pengaman atau pelindung) secara konsisten.
  • Pernah mengalami sifilis tetapi tidak menyelesaikan pengobatan.
  • Memiliki pasangan seksual yang terdiagnosis sifilis.
  • Hidup dengan HIV.
  • Tidak menjalani pemeriksaan IMS (infeksi menular seksual) secara rutin meskipun memiliki faktor risiko.

Bagaimana Dokter Mendiagnosis Sifilis Laten?

Karena tidak menimbulkan gejala, diagnosis sifilis laten bergantung pada pemeriksaan laboratorium.

Dokter ahli biasanya melakukan:

1. Wawancara Medis

Meliputi riwayat hubungan seksual, riwayat sifilis sebelumnya, serta faktor risiko lainnya.

2. Pemeriksaan Darah

Tes yang umum di gunakan meliputi:

  • VDRL (Venereal Disease Research Laboratory).
  • RPR (Rapid Plasma Reagin).
  • TPHA (Treponema pallidum Hemagglutination Assay).
  • FTA-ABS bila di perlukan.

Pada kondisi tertentu, dokter ahli juga dapat menyarankan pemeriksaan HIV karena kedua infeksi ini memiliki faktor risiko yang serupa.

Pengobatan Sifilis Laten

Pengobatan bertujuan menghentikan perkembangan infeksi dan mencegah komplikasi. Terapi utama yang di rekomendasikan adalah antibiotik dengan dosis yang di sesuaikan berdasarkan stadium sifilis.

Apabila pasien memiliki alergi, dokter ahli akan mempertimbangkan alternatif terapi sesuai kondisi klinis dan pedoman yang berlaku.

Setelah menjalani pengobatan, pasien tetap perlu melakukan pemeriksaan darah berkala untuk memastikan respons terapi berjalan dengan baik.

Sangat penting untuk tidak membeli antibiotik sendiri atau menghentikan pengobatan sebelum dokter ahli menyatakan terapi selesai, karena hal tersebut dapat meningkatkan risiko kegagalan pengobatan.

Bisakah Sifilis Laten Dicegah?

Risiko sifilis dapat di kurangi melalui beberapa langkah berikut:

  • Menggunakan kondom (pengaman atau pelindung) secara konsisten.
  • Menghindari berganti-ganti pasangan seksual.
  • Menjalani skrining IMS (infeksi menular seksual) secara berkala apabila memiliki faktor risiko.
  • Mengajak pasangan seksual menjalani pemeriksaan apabila salah satu terdiagnosis sifilis.
  • Segera berobat ketika muncul luka pada area genital atau gejala IMS (infeksi menular seksual) lainnya.

Pencegahan menjadi langkah penting karena sifilis sering berkembang tanpa gejala yang jelas.

Kapan Harus ke Dokter Ahli?

Segera lakukan pemeriksaan apabila Anda:

  • Pernah berhubungan seksual dengan penderita sifilis.
  • Memiliki pasangan seksual baru dan ingin melakukan skrining IMS (infeksi menular seksual).
  • Pernah mengalami luka pada alat kelamin yang sembuh sendiri.
  • Mendapatkan hasil tes sifilis yang reaktif.
  • Sedang merencanakan kehamilan atau sedang hamil.

Semakin cepat infeksi terdeteksi, semakin besar peluang keberhasilan pengobatan dan semakin rendah risiko komplikasi.

Kesimpulan

Sifilis laten merupakan fase infeksi sifilis yang tidak menimbulkan gejala, tetapi bakteri Treponema pallidum masih tetap berada di dalam tubuh. Karena tidak di sertai keluhan, banyak penderita tidak menyadari bahwa infeksi masih berlangsung hingga akhirnya berkembang menjadi komplikasi serius.

Pemeriksaan darah menjadi cara paling akurat untuk mendeteksi sifilis laten. Apabila diagnosis di tegakkan lebih awal, pengobatan dengan antibiotik yang tepat dapat menghentikan perkembangan penyakit dan mencegah kerusakan organ di kemudian hari.

Apabila Anda memiliki faktor risiko, pernah mengalami luka pada area genital, atau ingin memastikan kesehatan seksual Anda, jangan menunda pemeriksaan. Klinik Apollo Jakarta menyediakan layanan konsultasi yang menjaga privasi pasien, pemeriksaan laboratorium yang akurat, serta penanganan oleh dokter ahli berpengalaman dalam bidang infeksi menular seksual.

Dengan diagnosis yang tepat dan terapi sesuai pedoman medis, Anda dapat memperoleh penanganan lebih dini, mencegah komplikasi, serta melindungi kesehatan pasangan. Segera jadwalkan konsultasi di Klinik Apollo Jakarta untuk mendapatkan solusi medis yang aman, profesional, dan tepat sasaran.

FAQ

Apakah sifilis laten dapat menular?

Ya.

Risiko penularan lebih tinggi pada sifilis laten dini di bandingkan sifilis laten lanjut.

Namun, penderita tetap memerlukan pengobatan untuk mencegah perkembangan penyakit.

Apakah sifilis laten bisa sembuh?

Bisa.

Dengan pengobatan antibiotik sesuai anjuran dokter ahli, infeksi dapat di obati dan risiko komplikasi dapat di tekan secara signifikan.

Apakah sifilis laten selalu memiliki gejala?

Tidak.

Justru fase laten di tandai dengan tidak adanya gejala, sehingga pemeriksaan darah menjadi metode utama untuk mendeteksinya.

Apakah pasangan seksual perlu diperiksa?

Ya.

Pasangan seksual sebaiknya menjalani pemeriksaan agar infeksi dapat di deteksi dan diobati apabila di perlukan.

Ditinjau secara medis oleh Tim Medis Klinik Apollo Jakarta

Bagikan

Senin – Minggu 09.00 – 19.00

VISI & MISI

Mengedepankan sisi profesionalisme dalam bekerja serta mengedepankan kode etik kedokteran dan pengobatan penyakit kelamin untuk kesembuhan pasien secara menyeluruh.

Menjadi klinik spesialis kelamin dengan pelayanan kesehatan terbaik yang mengedepankan profesionalisme, keilmuan serta orientasi pasien sehingga dapat tercapai kesehatan yang berkualitas.

Butuh Bantuan Kami?

Segera konsultasikan penyakit kelamin Anda di Klinik Apollo.